destiny (part 13)

“Rin? Karin?” Robbi mengetuk pintu kamar Karin.
“Ehm? Apa?” karin membuka pintu kamarnya, terlihat dari wajahnya bahwa ia baru bangun tidur.
“Karin nggak apa-apa kan? Tadi dari mana sama Tata?” tanya Robbi berbondong-bondong.
“Aduh, Kak. Karin baru tidur sepuluh menit yang lalu nah. Masih ngantuk.” Karin masuk lagi ke dalam kamar, Robbi mengikuti.
Diam-diam Robbi merasa lega karena Karin masih memanggilnya Kakak.
Karin menjatuhkan diri di kasurnya, dan Robbi duduk di tepi ranjang Karin.
“Kamu masih marah?” tanya Robbi hati-hati.
“Nggak kok.” Karin tersenyum dengan mata tertutup.
Robbi menghela napas lega, didatanginya Karin yang terlihat sudah mau tidur. Di kecupnya pelan dahi adiknya pelan. “Makasih ya, De.”








DI SEBUAH taman, ada bangku panjang yang sedang diduduki seorang cewek berambut panjang ikal berwarna coklat. Matanya terlihat menerawang. Wajahnya yang cantik tidak dapat menutupi kesedihan di raut wajahnya.
Cewek itu adalah Karin. Ia sedang memikirkan apa yang telah dialaminya tadi siang. Peristiwa tadi siang mengubah segalanya. Karin mengulang kembali peristiwa tadi siang.


***


Suasana kantin masih sangat ramai, tetapi tidak menganggu acara makan Karin dan yang lainnya. Sekitar sepuluh menit kemudian, Karin dan yang lainnya selesai makan. Tiba-tiba dari arah ujung kantin, Mega berjalan cepat ke meja Karin dan yang lainnya. Tiba-tiba ia memukul meja.
“Heh! Lo Karin! Bikin susah orang aja sih!” Mega berkata tajam.
Karin dan yang lain bingung. Bayangin coba enak-enaknya makan malah dipukul mejanya, terus ngomongnya nggak jelas lagi.
Karena bingung dengan kelakuan Mega yang nggak jelas, Karin tidak memperdulikan Mega yang mencak-mencak meski dengan suara keras.
“Karin! Lo budek ato tuli? Bodoh ato bego? Lo udah bikin hubungan gue sama Robbi berantakan tau!” cecar Mega. Karin tetap diam sambil meminum es jeruk miliknya.
“Karin! Ih, lo itu ya nyusahin aja kerjaannya! Awas kalo elo buat masalah lagi!” Mega tambah mencak-mencak, dan Karin tetap diam.
“Karin!!!!! Awas lo! Kalau hubungan gue sama Robbi sempat putus! Elo orang pertama yang gue cari!” Mega menaikkan intonasi suaranya.
Karin yang mendengar intonasi Mega naik, lantas beranjak dari tempat duduknya. Mendatangi Mega yang lebih tinggi dari dirinya.
“Bukan lo aja yang hubungannya lagi berantakkan sama Robbi! Gue juga!” bisik Karin.
Tiba-tiba Tata berdiri, mendekati Karin dan Mega dan berdiri di antara keduanya. Posisinya memunggungi Mega dan berhadapan dengan Mega. Seakan-akan Tata ingin melindungi Mega.
“Mega nggak salah, Rin. Lo yang salah sebenarnya,” kata Tata dengan tegas, membuat Karin dan yang lainnya menatapnya dengan tajam.
“Kalau aja lo mau nerima Mega sebagai pacarnya kakak elo, kan nggak bakalan begini jadinya. Elo kelai sama Mega dan Robbi,” lanjut Tata.
Karin dan yang lainnya menatap Tata dengan pandangan tidak percaya. Sejak kapan coba Tata ngebelain si nenek lampir alias Mega itu?
“Lo kenapa, Tat?” Agni pertama bertanya.
Tata tergagap. Seperti kucing tertangkap basah mencuri ikan. “Nggg.. nggak apa-apa. Hmm.”
Karin menatap Tata dengan curiga. “Karin kelahi sama Robbi gara-gara dia.”
“Nggak. Bukan salah dia.”
“Iya!” Karin mengotot.
“Nggak!”
“Iya!”
“Cukup, Karin! Lo nggak perlu nyalahin dia! Cukup diri sendiri lo yang lo perhatikan!” Tata menatap tajam Karin yang kini terdiam seribu bahasa. Ucapan Tata tersebut menambah penonton mereka yang sudah penasaran jadi tambah penasara. Sampai ibu dan bapak kantin saja sampai memperhatikan.
Karin membalas tatapan tajam Tata. Ia tak peduli dengan penonton yang ada di kantin. Percuma kalau mereka nonton. Nggak ngerti juga bakalan. “Tata. Robbi. Sama aja!”
Tatapan Tata jadi tambah tajam. Mata hitamnya menembus mata coklat milik Karin. Tiba-tiba bel berbunyi menandakan bahwa jam istirahat pertama telah habis.
Dengan menekan gigi gerahamnya kuat-kuat agar kemarahannya tidak meledak, Karin berjalan melewati Tata yang masih memperhatikannya. Karin tidak melihat kalau Mega menyinggungkan senyum kemenangan di sudut bibirnya.
“Bel, lo mau disini atau ke kelas?” tanya Karin tanpa menoleh pada Bella. Tatapannya hanya tertuju pada satu titik. Pintu kantin.
“Iya, iya gue ikut ke kelas,” kata Bella buru-buru sambil berdiri dari tempatnya.
Karin berjalan ke pintu kantin. Matanya kaku dan dingin memancarkan kebencian, kekecewaan, tapi juga kesedihan.
Selama pelajaran dimulai Karin hanya diam dan sekali-kali menggeretakkan gigi dengan gemas, membuat Bella jadi serba salah. Mau negur supaya sabar, takut Karin marah. Kalau nggak di tegur nanti Karin tambah gemas sama Mega. Serba salah deh pokoknya.
Istirahat kedua pun Karin berubah drastis, ia biasanya ikut Bella sholat dzuhur tetapi ia ke perpustakaan dengan alasan tamu bulanannya datang.
Karin berjalan koridor sepi ke perpustakaan yang melewati taman sekolah dengan langkah gontai. Hari ini dia lagi nggak enak hati alias marah. Marah sama Tata dan Mega. Mereka berdua bisa-bisanya menyalahkan Karin atas semua yang telah terjadi.
Tiba-tiba langkah Karin terhenti karena mendengar suara tangis tertahan. Mata Karin langsung tertuju pad ataman sekolah yang kebetulan sangat sepi. Di sana hanya ada dua orang, satu cewek satu cowok. Si cewek menelungkupkan tangannya di wajahnya dan si cowok hanya menatap cewek dengan wajah pasrah.
Tetapi bukan itu yang membuat Karin terpaku di tempatnya. Bukan itu. Tetapi yang membuat ia terpaku adalah cewek dan cowok itu adalah Mega dan Tata. Mereka membuat Karin serasa mati berdiri dengan perasaan jengkel dan... cemburu!!
Tapi Karin langsung menyadari bahwa jika posisinya seperti ini, berhadapan dengan taman tersebut, maka dirinya akan terlihat oleh dua manusia yang sedang berhadapan itu.
Dengan sigap Karin bersembunyi di tembok sebelahnya. Menguping apa yang terjadi.
Please, Meg. Jangan bikin gue tambah susah,” kata Tata dengan suara lemah tapi mampu didengar oleh Karin dengan jelas.
“Gue nggak bikin elo susah. Hanya saja... hanya saja... jangan bikin gue jadi serba salah sama elo.”
“Nggak. Gue nggak mau elo merasa bersalah, harusnya gue yang minta maaf atas kejadian yang dulu itu. Tapi, tolong jangan ungkit masa lalu itu.”
Karin nggak mengerti apa yang dikatakan Mega dan Tata.
“Hanya dengan itu, hanya dengan cara itu supaya elo mau kembali sama gue.”
“Nggak. Nggak bisa. Lo sudah punya Robbi. Lo nggak boleh sama gue.”
“Robbi bukan apa-apa sama gue. Cuma lo yang berarti.”
Jdeer!! Karin merasa petir menyambarnya di siang bolong ini. Kata-kata itu ‘Robbi bukan apa-apa sama gue’ . nyucuk hati Karin yang benar-benar dalam! Karin, adiknya Robbi nggak pernah bicara kayak gitu, ini kok cuma pacar berani ngomong kayak gitu.
Inginnya Karin ngebunuh si Mega ini! Tetapi keinginan itu segara tertutupi oleh keingintahuan kelanjutan percakapan itu.
“Nggak boleh lo ngomong kayak gitu. Yang dulu itu biarin aja. Sekarang lo udah sama Robbi. Please, jangan mempersulit keadaan,” kata Tata menasehati Mega.
“Tapi boleh gue nanya sesuatu?” Mega bertanya dengan suara serak.
“Apa?”
“Apa elo masih sayang sama gue?”
Tata terlihat ragu-ragu. “Ya.”
Tanpa babibu lagi, Karin langsung pergi dari tempat terkutuk itu. Pergi dengan hati menahan pedih. Pergi dengan mata yang menahan tangis. Pergi dengan mulut yang menahan agar tidak teriak untuk menghilangkan sesak tersebut. Pergi dengan rasa cinta yang dikubur dalam-dalam.
Cukup satu kata “Ya” yang menghancurkan segala angan. Cukup satu kata itu yang mampu membuat hati mengeluarkan nanah. Cukup satu kata itu yang dengan paksa membuat jantung jadi terbelah dua.
Karin berjalan cepat dengan titik airmata yang membasahi sedikit pipi putihnya. Tiap ada seseorang akan melewatinya, ia cepat-cepat menghapus air mata itu.


***


Itulah sebabnya mengapa hari ini wajah Karin terlihat sedih. Ia terluka. Dalam sekali. Karin menghela napas dalam-dalam. Ia berdiri dari bangku panjang tersebut dan pergi dari sana dengan langkah perlahan. Pelan-pelan dan hanya dirinya yang dapat mendengar, ia bernanyi agar hatinya sedikit lega.

the stars lean down to kiss you
and I lie awake and miss you
pour me a heavy dose of atmosphere
'cause I'll doze off safe and soundly
but I'll miss your arms around me
I'd send a postcard to you dear
'cause I wish you were here
I'll watch the night turn light-blue
but it's not the same without you
because it takes two to whisper quietly
the silence isn't so bad
'Til I look at my hands and feel sad
'cause the spaces between my fingers
are right where yours fit perfectly
I'll find repose in new ways
thought I haven't slept in two days
'cause cold nostalgia chills me to the bone
But drenched in vanilla twilight
I'll sit on the front porch all night
Waist-deep in thought because
when I think of you I don't feel so alone
I don't feel so alone
I don't feel so alone
As many times as I blink
I'll think of you tonight
I'll think of you tonight
when violet eyes get brighter
and heavy wings grow lighter
I'll taste the sky and feel alive again
and i'll forget the world that I knew
But I swear I won't forget you
Oh , if my voice could reach
Back through the past
I'd whisper in your ear
Oh darling , I wish You were here

Tidak ada komentar:

Posting Komentar