destiny (part 14)

“Karinn!!!!” Bella berseru sambil berlari sepanjang koridor mendekati Karin.
“Apaan sih lo? Teriak-teriak masih pagi nih! Malu-maluin aja,” kata karin sewot, abisnya dia malu namanya dipanggil-panggil kayak maling aja.
“Hehehe, maaf, neng. Eh, ada kabar yang menurut gue bagus banget loh. Tapi kalau buat elo gue nggak tau.”

Karin menghentikan langkahnya. “Berit apakah yang menurut dikau itu bagus?”
“Ceileh, kata-katamu, Rin.”
“Apa beritanya?”
“Katanya Bu Vika yang kemarin ulangan metik harian itu, yang nggak ikut remedial itu cuma gue, elo, dan Giovani. Padahal katanya soal itu untuk anak kelas dua oh, tapi kita bisa ngerjain.”
“Bagus dong.” Karin melanjutkan kembali langkah kakinya.
“Terus. Kita disuruh jadi tutor untuk anak kelas dua-satu. Karena sebenarnya itu soal buat anak kelas dua-satu, bukan buat kita.”
“Dua-satu? Kelas Kak Agni dong?”
“Ya, memang. Kelas mereka ber-enam.”
“Kenapa nggak ibunya aja sih?” Karin mulai sewot.
“Semua guru metik penataran, sayang. Mulai hari ini.”
“Kenapa mesti kita? Kan ada yang dari kelas lain juga.”
“Nah, itu. Yang bisa ngerjain itu ulangan dari kelas satu cuma kita bertiga.”
“Ya sudah, ngomong sana sama Giovani. Mau nggak dia?”
“Sudah, malahan dia rekomendasi supaya dia yang nerangin, gue yang bakalan jawab kalau ada pertanyaan, dan lo cuma berdiri di belakang kelas sambil ngawasin.”
“Baguslah.”
“Padahal elo paling tinggi nilainya. Tapi kenapa elo yang paling enak kerjanya. elo itu seratus loh nilainya. Hebat bener.”
“Itulah kehebatan Karin Finansi.” Karin tertawa sambil memasuki kelasnya. “Kapan kita jadi tutor?”
“Hari ini, pas pelajaran terakhir mereka.”
“Oh..”


***


“Karin! Bella! Gue mau ngomong.”
Karin dan Bella menoleh bersamaan ke sumber suara yang memanggil mereka. Terlihat Giovani berdiri tak jauh dari meja kantin mereka.
“Oke, mau ngomong apa lo?” tanya Karin sambil berdiri dari kursinya dan mendekati Giovani, diikuti Bella.
“Soal tutor pasti,” sahut Bella yakin.
Giovani mengancungkan jempolnya. “Seratus buat elo.”
“Apalagi? Kan tadi pagi udah?” tanya Karin.
“Pagi kan lo ngomong sama Bella bukan ngomong sama gue,” kat Gio.
Karin nyengir, menyadari kesalahannya.
Tata dan yang lain hanya memperhatikan Giovani, Karin, dan Bella dengan pandangan tidak mengerti. Mereka belum tahu apa-apa tentang tutor tersebut karena Karin dan Bella belum cerita apa-apa.
“kayaknya jangan cerita disini deh, Gio. Lebih baik di kelas aja,” kata Bella sambil melirik Tata dan yang lain.
“Ayo.” Giovani menarik tangan Karin dan Bella.
“Kami duluan ya?” seru Bella pada Tata dan yang lain.
Tak ada jawaban dari Tata dan yang lain. Masih terbengong-bengong dengan apa yang terjadi.
“Kenapa sih mereka? Apa pula si Gio itu pegang-pegang Karin?” Tata akhirnya memecah kebengongan mereka.


***


“Jadi gini, gue yang nerangin nih?” tanya Gio.
“Bukannya emang lo yang rekomendasi kayak gitu ya? Kok malah balik nanya?” cecar Bella.
“Tapi gue mikir juga. Karin yang nilainya paling tinggi kenapa dia yang paling santai?”
“Karena gue bossy,” sahut Karin.
“Hadoh, kalau Karin yang jadi bossy apa nggak hancur nih acara tutor-menutor kita nih?” canda Bella.
“Enak aja lo.”
“Ya sudah. Tetap ke rencana awal. Gue ngajar, Bella menjawab, Karin ngawasin.” Tegas Giovani. “Tapi kalau Bella nggak bisa jawab, Karin yang jawab.”
“Sip,” kata Bella.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar