autumn in paris :')


buku ini... buku ini cukup menghabiskan tenagaku hanya untuk menangis. cukup menangis.
buku ini... buku ini menyadarkanku kalau dunia itu sempit.
buku ini juga menyadarkanku bahwa kehidupan orang di luar sana nggak semulus yang kupikir.

ampun deh , dari awal aku sudah ngerasa kalau papanya Tara itu adalah papanya Tatsuya, ku kira nggak bakalan semenyedihkan itu , ternyata oh oh , aku terhipnotis untuk menghabiskan seluruh tenagaku hanya untuk menangis dan menangis.



ampun deh , kalau aku jadi Tara nggak usah di tanya. bakalan tuh aku terjun di sungai itu tanpa menghiraukan sebastian yang menghalangi. haduhh, aku kasian sama Tara. aku bingung mau bagaimana menggambarkan perasaanku waktu Tatsuya udah pergi ke alam yang berbeda.
ini kata-kata yang aku suka dari buku ini

1.“Tapi hari itu berbeda. Ketika aku akan keluar dari bandara, aku melewati sebuah kafe dan mencium aroma kopi yang enak. Untuk pertama kalinya aku tergoda untuk duduk dan menikmati secangkir kopi panas. Aku tidak tahu apa yang menarikku, tetapi aku meyakinkan diri sendiri bahwa aku hanya lelah setelah berjam-jam duduk di pesawat yang sempit.

2. “Gadis itu... posisi duduknya... kaca jendela besar... sinar matahari menyinarinya.... Aku terpesona melihat kombinasi semua itu. Dengan sinar matahari dari luar, sosok gadis itu menjadi agak kabur, gelap, dan memberikan kesan misterius. Aku bisa saja terus memandangi gadis itu kalau saja aku tidak menyadari bahwa aku sudah punya janji bertemu seseorang hari itu.

3.“Aku memandangi punggung gadis itu sampai ia menghilang di balik kerumunan orang. Aku ingin bertanya pada Hugo tentang gadis itu, tapi tidak jadi. Kalau Hugo memang kenal baik dengan gadis itu, ia pasti akan curiga kalau aku bertanya macam-macam. Tapi harus kuakui, ada sesuatu dari gadis itu yang membuatku tertarik.”

4. “Aku sudah mencatat dalam hati lain kali aku takkan mengajaknya ke museum lagi. Jadi sekarang aku ingin menghadiahkan sebuah lagu untuknya sebagai ucapan terima kasih karena sudah begitu sabar dan karena sudah menjadi teman mengobrol yang menyenangkan. Bisakah Anda putarkan lagu yang bagus untuknya?

5. Apa artinya itu? Sebastien meninggalkannya. Sebelum ini Sebastien tidak pernah meninggalkannya. Tidak pernah. Walaupun lelaki itu punya banyak kekasih, tapi Tara selalu mendapat perhatian utamanya. Sebastien sendiri yang berkata begitu. Tara ingat Sebastien pernah berkata kalau Tara adalah gadis nomor satunya. Tentu saja Tara tahu Sebastien hanya menganggapnya sebagai teman baik, mungkin juga sebagai adiknya, tapi tidak masalah. Tara senang

6. “Tetapi akhir-akhir ini aku merasakan sesuatu yang aneh sedang terjadi.... Paris berubah menjadi kota yang indah tepat di depan mataku dan musim gugur juga mulai terasa menyenangkan. Gadis itu yang membuat segalanya berubah. Dia sangat suka kota ini dan sangat suka musim gugur. Mengherankan sekali.... Aku tidak pernah menganggap diriku gampang dipengaruhi, tetapi kenapa gadis ini dengan mudahnya membuatku berubah pikiran?

7. “Sebelumnya aku sudah tahu dia suka Paris, musim gugur (tentu saja!), Sungai Seine, sate kambing, cat kuku warna-warni, dan mengoceh panjang-lebar. Kemarin aku baru tahu dia juga suka nonton film-film klasik. Salah satu film favoritnya sepanjang masa, menurut pengakuannya, adalah Breakfast At Tiffany‟s. Tentu bisa ditebak juga bahwa Audrey Hepburn adalah aktris favoritnya dan Moon River adalah lagu kesukaannya. Kalian punya lagu itu? Bisa putarkan untuknya? Dia pasti senang sekali.”

8. Tara menyadari suara ayahnya bergetar ketika berkata, “Semua ini terjadi karena salahku. Kau juga tahu, bukan? Aku telah menghancurkan putraku. Dan kalau Victoria tahu tentang ini, dia juga akan hancur. Laurent, aku menghancurkan kedua anakku. Darah dagingku sendiri.”

9. Jangan pergi... jangan pergi....
Tara ingin meneriakkan kata-kata itu, memohon Tatsuya untuk tidak meninggalkannya, tapi suaranya tidak bisa keluar. Ia hanya bisa memohon dalam hati sementara Tatsuya membalikkan tubuh dan berjalan pergi.

10.Kumohon... jangan pergi....
Isakan pertama melompatkeluar dari tenggorokannya dan ia harus menutup mulut dengan tangan supaya Tatsuya tidak mendengarnya. Tetapi melihat punggung Tatsuya yang semakin jauh, Tara sama sekali tidak bisa mengendalikan tangisnya. Isakannya bertambah keras dan ia harus membekap mulut dengan kedua tangan, namun itu juga tidak membantu.

11. Hatinya sakit sekali ketika memeluk Tara, tapi jauh lebih sakit ketika ia melepaskan pelukannya. Tidak apa-apa... Saat ia meninggalkan Paris, hatinya tidak akan sakit lagi. Ia yakin itu. Karena pada saat itu, hatinya juga akan mati. Tidak akan merasakan apa-apa lagi.

12. “Hidup ini sungguh aneh, juga tidak adil. Suatu kali hidup melambungkanmu setinggi langit, kali lainnya hidup mengempaskanmu begitu keras ke bumi. Ketika aku menyadari dialah satu-satunya yang paling kubutuhkan dalam hidup ini, kenyataan berteriak di telingaku dia juga satu-satunya orang yang tidka boleh kudapatkan. Kata-kataku ungkin terdengar tidak masuk akal, tetapi percayalah, aku rela melepaskan apa saja, melakukan apa saja, asal bisa bersamanya. Tetapi apakah manusia bisa mengubah kenyataan?

13. “Satu-satunya yang bisa kulakukan sekarang adalah keluar dari hidupnya. Aku tidak akan melupakan dirinya, tetapi aku harus melupakan perasaanku padanya walaupun itu berarti aku harus menghabiskan sisa hidupku mencoba melakukannya. Pasti butuh waktu lama sebelum aku bisa menatapnya tanpa merasakan apa yang kurasakan setiap kali aku melihatnya. Mungkin suatu hari nanti—aku tidak tahu kapan—rasa sakit ini akan hilang dan saat itu kami baru akan bertemu kembali.”

14. “Sekarang... Saat ini saja... Untuk beberapa detik saja... aku ingin bersikap egois. Aku ingin melupakan semua orang, mengabaikan dunia, dan melupakan asal-usul serta latar belakangku. Tanpa beban, tuntutan, atau harapan, aku ingin mengaku.
“Aku mencintainya.”

15. “Terima kasih.” Suaranya gemetar. Tangannya juga. “Terima kasih atas semua yang sudah kaulakukan untukku. Aku selalu senang bersamamu. Kau membuat segalanya menyenangkan. Saat-saat bersamamu adalah saat-saat paling membahagiakan. Aku selalu mengira saat itu bisa bertahan selamanya.”

16. “Terima kasih.” Suaranya gemetar. Tangannya juga. “Terima kasih atas semua yang sudah kaulakukan untukku. Aku selalu senang bersamamu. Kau membuat segalanya menyenangkan. Saat-saat bersamamu adalah saat-saat paling membahagiakan. Aku selalu mengira saat itu bisa bertahan selamanya.”

17. Selama dia bahagia, aku juga akan bahagia. Sesederhana itu.

banyak ya ? hahaha .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar