pengalaman bersama anak Broken Home

Aku sering banget ngerasa beruntung didunia ini , ternyata ALLAH masih sayang sama aku. Sayang banget, aku masih punya keluarga lengkap, aku punya kasih sayang keluarga, hidupku berkecukupan walaupun tidak mewah, dan aku bersyukur hidupku tidak susah seperti orang lain.
Aku sering kasian sama orang di luar sana yang katanya broken home lah , yang katanya anak jalanan lah , yang katanya pecandu narkoba karena kurang perhatian , yang katanya orang tuanya cerai , yang katanya papanya suka mukulin mama dan dirinya.
Dan aku sering banget ngerasa terharu sama perjuangan anak demi bertemu sama orang tuanya, sampe ada yang jadi anak jalanan demi bertemu orang tuanya, sampe aku ada baca di satu situs yang orang tuanya dipenjara padahal orang tuanya nggak sama sekali salah.
Aku suka nangis, ngebayangin gimana kalau aku ada di posisi mereka. Jika aku menjadi mereka apa yang akan aku lakuin, aku nggak bakalan akan seperti mereka yang kuat akan cobaan. Aku suka nangis ngeliat perjuangan mereka.
dan akhirnya aku bener-bener ngerasain gimana penderitaannya anak-anak yang broken home. Tapi jangan salah, maksudku bukan keluargaku pecah belah gitu. Bukan. Sama sekali bukan. Maksudku selama ini aku kira disekitarku aku nggak ada anak yang broken home. Dan ternyata ada.
Aku nggak bisa sebut namanya, tapi dia bilang sama aku untuk ngeposting ini supaya dia bisa memberikan pengalamannya untuk anak yang broken home. Hanya untuk meringankan bebannya.
Siang itu , kira-kira hari kamis tanggal 7 april 2011 jam 15.30 , temenku , sebut aja dia A, nelpon aku sambil nangis-nangis. Awalnya aku bingung. Awalnya aku nggak ngerti dia ngomong apa, karena sambil nangis dan suaranya putus-putus. Tapi aku sadar, dia punya suatu masalah yang lumayan besar.
Selama ini A itu nggak pernah nangis, orangnya tegar. Tegar banget. Sampai aku tau, setelah A cukup tenang dan nggak menangis walaupun masih seunggukkan.
Dan dia cerita kalau orang tuanya cerai. Aku kaget, selama ini orang tuanya kelihatannya harmonis banget. Waktu itu si A bilang gini kayak aku.
“Fir, orang tua aku cerai. Aku harus gimana? Aku nggak tau apa yang terjadi di keluarga aku. Aku takut ngeliat bapakku tadi keliatan kalut banget, sampe guci pada pecah sebagian. Mama kakinya berdarah. Dan kakak nolongin mama, sampe dia sendiri kena pukul. Aku takut, Fir. Aku takut.”
Aku nggak tau harus bilang apa, karena sumpah aku nggak punya pengalaman apapun tentang anak broken home, aku nggak ngerti gimana papanya bisa sampe kalut kayak gitu, padahal yang aku tau , papanya itu cukup murah senyum, suka obral senyum.
Dan akhirnya, aku mendengar sendiri kalau ada guci pecah abis itu telepon terputus, dan aku baru bener-bener sadar, kira-kira tiga menit kemudian. Aku nelpon dia lagi , berkali-kali tapi nggak ada jawaban. Aku coba telepon ke rumahnya, cukup sekali. Dan langsung diangkat oleh papanya. Papanya mengucapkan sumpah serapah , yang nggak pantes bener aku dengar. Kasar. Terkesan biadab. Nggak punya aturan. Lalu telepon diputus.
Sampai akhirnya si A nelpon aku lagi seminggu setelah dia menghilang dan mengirimkan aku mms. Foto dirinya close-up dan ku lihat benar-benar bikin aku nelangsa. Wajahnya yang selama ini aku kagumi karena canti penuh luka biru dan berdarah. Aku nangis tanpa sadar. Aku nelpon dia, aku takut apa yang menimpa dia akan membuat mental dia hancur.
Tapi dia berusaha kuat, walaupun dia sakit. Bukan Cuma fisik, tapi juga batinnya tersakiti. Dia berpikir kayak gini. Aku nggak tau awalnya kalau dai bakalan berfikir kayak gitu. Katanya, dia Cuma mikirin ini di pikirannya yang tanpa tendeng-tendeng aling, dia menyuarakannya tanpa sadar.
“Aku nggak nyangka bakalan hidup kayak gini. Aku nggak nyangka banget bakalan jadi anak broken home kayak gini. Hidup aku serasa mati. Cuma tinggal tubuh. Cuma tinggal daging. Aku berharap banget hidup aku kayak Fira. Hidup aman sentosa tanpa beban. Aku serasa susah bernafas waktu liat ibu sakit kayak gitu. Susah ngomong waktu kakak mukanya biru-biru yang lebih dari apa yang aku rasain. Aku susah payah nyari jantungku waktu aku liat bapak aku kalut kayak gitu. Aku lebih susah payah ngebalikin raga aku ketika pengadilan memutuskan memisahkan ibu sama bapak aku. Dan aku pikir aku sudah kehilangan nyawa aku waktu pengadilan memutuskan lagi kalau bapakku harus dirawat dirumah sakit jiwa karena bapakku ternyata sakit. Dan aku ngerasa kiamat banget setelah semua itu terjadi. Tapi aku sadar, dunia belum kiamat. Dan aku harus kuat. Aku nggak boleh jadi anak broken home. Aku harus terima kenyataan. Aku harus bisa. Pasti bisa. Pasti!”
Aku... sumpah nggak bisa nahan nangis waktu dia bilang kayak gitu. Bahkan ketika aku nulis ini, air mataku berjatuhan. Astaga, aku nggak nyangka si A ini bakalan kayak gini. Akungerasa masih beruntung walaupun aku tidak sekaya dia.
Aku mengucapkan terima kasih pada A karena sudah memberikanku pengalaman yang amat berharga dan kata-katamu yang sangat indah untuk dunia. Dan perbuatanmu untuk menghadapi dunia seperti sekarang. Aku amat sangat bangga mengenal dirimu. Teman baikku.
Salam hangat dari Fira untuk para remaja di dunia J

2 komentar: