spring in london

hei , ketemu lagi ya ? aku pengen nih nge posting tentang novel spring in london. belum aku posting kan sebelumnya?
oh iya , aku paling suka di novel ini adalah si Danny Jo. hehehe, katanya sih ganteng , ah , yakin lah aku kalo dia ganteng .
oke oke , aku bakalan ngasih tau gimana sinopsis pendeknya. tenang aja.
si Naomi, artis yang terkenal di london ini ternyata punya sisi gelap yang cukup bikin para cewek agak-agak sedih , kasihan , aduh ngerti kan para cewek? dan Naomi yang agak takut sama cowok pun bertemu dengan Danny Jo yang ternyata adalah adik dari seseorang yang pernah membuatnya traumatis banget. DAnny Jo mengingatkan Naomi pada orang itu , Danny pula yang membangkitkan sisi gelap Naomi, tapi DAnny juga yang berhasil memasuki ruang hati Naomi.
masalah demi masalah mereka atasi sampai akhirnya Danny Jo tahu akan kebejatan kakanya terhadap wanita yang dia cintai , karena tidak mau menyakiti Naomi, karena Danny menginggatkannya pada kakaknya, Danny pun menjauhi Naomi.
tapi dengan kurun waktu 2 tahun, waktu yang cukup lama, tapi tak mereka tidak lupa akan cinta mereka , karena itu takdir mempertemukan mereka kembali.

begitu singkatnya.

nah ini adalah kata-kata yang aku suka dari novel ini.

1. Aku tidak tahu kau vegetarian atau bukan dan aku tidak tahu kau suka kalkun
atau tidak, tapi tolong makan saja daripada kau jatuh pingsan di tengah-tengah
syuting. Kita tidak mau hal itu terjadi, bukan?
D.

2. “Astaga, jangan tertawa terus. Aku jamin kau tidak mau melihat Hyong kalap,”
kata Danny kepada Naomi, namun Bobby Shin bisa melihat mata Danny bersinarsinar
tertawa. Lalu ia menunduk dan mengatakan sesuatu kepada Naomi yang tidak
terdengar oleh Bobby Shin, dan sedetik kemudian gadis itu menatap Danny dengan
matanya yang besar itu dengan tatapan heran, lalu melirik Bobby Shin, dan
akhirnya kembali menatap Danny yang mengangguk-angguk kecil.

3. Aliran kata-katanya terhenti ketika Danny tiba-tiba menempelkan telapak
tangannya di kedua sisi kepala Naomi. Secara naluriah Naomi menarik diri, namun
tangan besar yang menangkup pipi dan menempel di telinganya itu tidak bergerak.
Naomi tidak bisa bergerak. Hanya bisa berdiri di sana dan mendongak menatap
Danny dengan mata melebar kaget. Tangan Danny terasa besar. Dan hangat. Sama
sekali tidak menakutkan. Sesaat jantung Naomi seolah-olah berhenti berdegup, lalu
mulai berdebar dan semakin lama semakin cepat. Ia tidak bisa bernapas. Oh, dear...

4. Aku... memang merasakan sesuatu, tapi bukan... bukan untuk Chris.
5. Danny telah melakukan satu kesalahan malam ini. Ia membiarkan Naomi
sendirian di tengah banyak orang. Seharusnya ia tetap bersama Naomi. Kalau ia
tetap bersama Naomi, gadis itu pasti tidak akan mengalami kejadian mengerikan
ini. Danny sama sekali tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada
dirinya sendiri kalau Naomi sampai terluka. Ia tidak akans anggup
menanggungnya. Ia yakin ia bisa gila.

6. “Semuanya akan baik-baik saja,” Danny bergumam lirih kepada Naomi yang
masih menangis. Ia mempererat pelukan dan menyandarkan pipinya di puncak
kepala Naomi. “Dia tidak akan menyakitimu lagi. Aku berjanji.”

7. Danny merasa sekujur tubuhnya mati rasa dan sangat berat. Seolah-olah ia tidak
sanggup berdiri lagi. Ia harus mencengkeram lemari kecil di sampingnya. Ia tidak
boleh jatuh di sini. Otaknya berputar kembali ke saat ia pertama kali bertemu
dengan Naomi Ishida. Gadis itu pasti sudah tahu sejak awal bahwa Danny adalah
adik Jo Seung-Ho, orang yang menyakitinya. Tidak heran pada awalnya Naomi
selalu terlihat gugup dan resah di dekatnya. Tidak heran mata hitam besar itu selalu
memandangnya dengan tatapan takut. Tidak heran gadis itu membenci Danny.
Tidak heran... tidak heran... Demi Tuhan, mengingat apa yang telah dilakukan
kakaknya pada Naomi, Danny heran gadis itu tidak langsung mencakarnya ketika
pertama kali melihatnya.

8. Naomi tidak langsung menjawab. Setelah diam beberapa saat, ia mengangguk
pelan. “Aku tahu tentang dirimu dari tabloid,” gumam Naomi dengan nada
melamun. “Karena kau termasuk artis terkenal di Korea dan karena artis-artis Korea
juga populer di Jepang, para wartawan Jepang suka meliput segala sesuatu yang
terjadi pada artis Korea. Artikel tentang kecelakaan yang menimpa saudara
kandung Danny Jo pun menjadi bahan yang menarik untuk dimuat dalam tabloid.”

9. Naomi mendengus pelan dan menggeleng. “Jangan mengira aku tidak
membenci kakakmu. Aku membencinya. Aku membencinya karena apa yang
dilakukannya padaku. Aku begitu membencinya sampai ingin membunuhnya
dengan tanganku sendiri. Tapi sebelum aku bisa melaksanakan niatku, dia sudah
meninggal. Tewas dalam kecelakaan lalu lintas. Apa lagi yang bisa dikatakan kalau
begitu?” Seulas senyum sinis dan hambar terukir di bibirnya. “Lagi pula kalau
waktu itu kukatakan padamu apa... apa yang dilakukan kakakmu—kakakmu yang
sudah meninggal tiga tahun lalu—padaku, apakah kau akan percaya?”

10. “Sudah kuduga,” gumam Naomi. Ia menarik tangannya dari genggaman
Danny, berdiri dan berjalan ke arah jendela. Sejenak keheningan pun kembali
menyelimuti ruangan. Lalu Danny mendengar Naomi mendesah lirih dan berkata,
“Orangtuaku... Merekalah alasan utama aku tidak pernah berkata apa-apa tentang
kejadian itu. Seumur hidupku aku belum pernah melakukan sesuatu yang membuat
mereka terpaksa menanggung rasa malu. Mereka bangga pada anak-anak mereka.
Mereka bangga padaku. Kalau mereka sampai tahu masalah ini... Kalau ayahku
sampai tahu masalah ini, aku tidak berani membayangkan bagaimana
perasaannya.”

11. Namun Naomi mengernyit dan menjauh dari uluran tangan Danny. “Kurasa
aku telah membuat kesalahan,” katanya dengan suara tercekat. Kedua tangannya
terkepal erat di sisi tubuhnya. Ia terlihat tegang dan tertekan. “Ketika kupikir kita
bisa berteman, kurasa aku salah. Kita tidak pernah bisa berteman. Tidak akan
pernah.”

12. “Dan aku tidak bisa memandangmu tanpa teringat pada kakakmu dan apa yang
pernah dilakukannya padaku.”

13. “Naomi.” Suara Danny yang pelan dan berat membuat Naomi mengangkat
wajah. Danny berhenti di ambang pintu kamar dan berbalik menghadap Naomi.
“Aku mewakili kakakku meminta maaf padamu. Walaupun aku sendiri tidak akan
pernah bisa memaafkannya atas apa yang dilakukannya padamu, aku tetap ingin
mewakilinya meminta maaf padamu.”

14. “Aku juga ingin kau tahu,” lanjut Danny tanpa mengalihkan pandangannya
dari wajah Naomi, “aku bukan kakakku. Aku tidak akan pernah menyakitimu.”

15.Tetapi saat ini ia sangat ingin mengatakan apa yang dirasakannya, apa yang ada
dalam hatinya. Danny menoleh ke arah Naomi. “Ada sesuatu yang ingin kukatakan
padamu sejak dulu,” katanya. Lalu ia tersenyum. “Sampai sekarang aku belum
mengatakannya karena... yah, karena berbagai alasan. Dan alasan utamanya adalah
karena aku takut.”

16.“Kalau aku mengatakannya, reaksi apa yang akan kauberikan? Apakah kau
akan menerima pengakuanku? Apakah kau akan percaya padaku? Apakah kau
masih akan menatapku seperti ini? Tersenyum padaku seperti ini? Atau apakah
justru kau akan menjauh dariku? Meninggalkanku?” Saat itu Danny menatap mata
Naomi menarik napas panjang. “Tapi aku tahu aku harus mengatakannya padamu.
Aku tidak mungkin menyimpannya selamanya. Entah bagaimana reaksimu nanti
setelah mendengarnya, aku hanya berharap satu hal padamu.”

17. “Karena aku membutuhkanmu,” lanjut Danny. “Karena kurasa kau sudah
cukup lama berpikir dan sekarang saatnya kau kembali padaku. Karena aku ingin
kau tahu bahwa perasaanku sekarang masih sama seperti dulu. Dan karena aku
ingin tahu apakah kau sudah percaya padaku, walaupun hanya sedikit.”

18. “Aku ingin kau percaya padaku,” lanjut Danny, masih menggenggam tangan
Naomi. “Aku ingin kau percaya ketika kukatakan bahwa aku tidak akan pernah
menyakitimu. Kalau perlu, aku bersedia menghabiskan sisa hidupku menebus apa
yang dilakukan kakakku padamu. Asal kau tetap bersamaku. Di sisiku.”

19. “Dan di atas segalanya,” lanjut Danny, “aku ingin kau percaya padaku ketika
kukatakan bahwa aku mencintaimu.”

just it

salam hanagt dari fira untuk para remaja di dunia :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar