bad experience I've ever had


I have a bad experience which I thought was awful, I was still sitting in fifth grade elementary sedolah.Around noon when I sleep. I dream of something that is not forgotten in my life.
In my dream I was walking to my aunt's place in the new village edge with my mother. 
About fifty yards away I got to my aunt's house, but suddenly I realized that my mother was not walking beside me again, I anxiously looked in all directions but I do not find my mother.
I ran into my aunt's house, tet pi when I ran my aunt's house seemed very far away. 
I got short of breath.Arriving at my aunt's house I was surprised to see my mother standing stiffly in front of the door of my aunt's house. He was not wearing a headscarf as usual. Her hair-acakkan random. His clothes were in tatters. Her eyes were red. All was still recorded in my memory.
Suddenly my mother approached me, holding out both hands. 
I took a step back, suddenly I felt afraid.Quickly she strangled my neck with great force. I shouted loud, kept screaming and screaming until my voice out and could not make a sound anymore.Shortness of breath due to strangulation as well start it.
And suddenly again, my mother let go cekikannya until I stumbled two steps. 
I was shocked when my mother ran towards the highway is congested. I chased her mother calling. I was afraid when he was hit by a car while passing by.
And like what I expected. 
My mama running hard, he was crossing the street while running and not look left and right. I ran after him, I cried as he ran. Suddenly there is a van that crashed into the body of my mama.I shouted loud and cried.
Suddenly I woke up as he continued to shout. 
Two of my brothers and my parents were shocked and immediately came to my room. I cried. I do not want to lose my mother. That's the bad experience I will never forget even for a dream.

pengalaman buruk yang paling buruk

aku mempunyai pengalaman buruk yang menurutku sangat mengerikan, waktu itu aku masih duduk di sedolah dasar kelas lima. Kira-kira siang hari ketika aku tidur. Aku bermimpi sesuatu yang sangat tidak terlupakan dalam hidupku.
Di dalam mimpiku aku sedang berjalan ke tempat bibiku di kampung baru ujung bersama ibuku. Sekitar lima puluh meter lagi aku sampai di rumah bibiku, tetapi tiba-tiba aku menyadari bahwa ibuku sudah tidak berjalan di sebelahku lagi, dengan cemas aku menatap ke segala arah tetapi aku tidak menemukan ibuku. 
Aku berlari ke rumah bibiku, tet pi ketika aku berlari rumah bibiku seakan sangat jauh sekali. Aku sampai sesak napas. Sampainya di rumah bibi aku terkejut melihat ibuku tengah berdiri kaku di depan pintu rumah bibiku. Ia sudah tidak memakai jilbab seperti biasanya. Rambutnya acak-acakkan. Bajunya compang-camping. Matanya merah. Semua itu masih terekam dalam memoriku.
Tiba-tiba saja ibuku mendekatiku sambil mengulurkan kedua tangannya. Aku mundur selangkah, tiba-tiba saja aku merasa takut. Dengan cepat ibuku mencekik leherku dengan kuat. Aku berteriak kencang, terus berteriak dan berteriak sampai suaraku habis dan tidak bisa mengeluarkan suara lagi. Napasku juga mulai sesak akibat cekikan itu.
Dan dengan tiba-tiba lagi, ibuku melepaskan cekikannya sampai aku terhuyung dua langkah. Aku terkejut ketika ibuku berlari kea rah jalan raya yang ramai sekali. Aku mengejarnya sambil memanggil ibu. Aku takut bila ia tertabrak mobil yang sedang berlalu lalang.
Dan seperti apa yang kuduga. Mamaku berlari kencang, ia menyebrang jalan sambil berlari dan tidak melihat kiri dan kanan. Aku berlari mengejarnya, aku menangis sambil berlari. Tiba-tiba saja ada mobil van yang menabrak tubuh mamaku. Aku berteriak kencang dan menangis.
Tiba-tiba aku terbangun sambil terus berteriak. Dua kakakku dan orang tuaku kaget dan segera datang ke kamarku. Aku menangis terus. Aku tidak ingin kehilangan ibuku. Itulah pengalaman buruk yang tak akan pernah terlupakan walau hanya mimpi.  

destiny (part 12)

Agni, Hari, Beben, Gilang, dan Tony merasakan ada perubahan dalam diri Tata. Perubahan itu mereka rasakan ketika siswi baru itu masuk ke kelas mereka. Tata jadi pendiam dan tidak lagi mendekati Karin seperti kemarin-kemarin. Ia pun tidak makan dan minum selama di kantin. Di kantin biasanya dia duduk di sebelah Karin, kini ia bergeser dua posisi, ia duduk di tempat Gilang, dan Gilang duduk di tempat Tata.
Celetukkan-celetukkan teman-temannya pun tidak di tanggapinya. Tata jadi banyak melamun, padahal kemarin dia yang paling cerewet, sekarang malah diam sejuta bahsa.
Karin pun merasakan perubahan dalam diri Tata.
“Rin, makan nggak lo kalau nggak makan buat gue aja,” kata Gilang sambil menunjuk mangkok bakso yang ada di haadapan Karin.
Karin jadi gemas. “Ih, kak Gilang ini! Karin masih makan tau!” kata Karin sambil mencubit pipi Gilang, yang dicubiti hanya nyengir nggak jelas.
“Abisnya elo nggak makan-makan cuma megangin sendok sama garpunya doang. Mending buat gue aja, lo makan sendok sama garpunya aja.”
“Enak aja. Bakso kakak aja belom abis, mau abisin punya Karin?” Karin menunjuk mangkok bakso Gilang.
“Heh! Lo bedua itu makan, makan aja nggak usah sambil ribut gitu. Males tau dengerinnya,” ujar Bella.
Tapi ucapan bella tidak dihiraukan oleh Karin dan Gilang, mereka asik berkelahi satu sama lainnya sampai Karin menutupi mulutnya dengan tangan agar tawanya tidak meledak keluar. Gilang sampai terbungkuk-bungkuk oleh celetukkan Karin. Tawa mereka terus berlanjut sampai ada seorang cewek dengan tubuh sekitar 170 cm, rambutnya gelombang lembut, mendatangi Tata dengan ekspresi tegang.
“Itu anak baru di kelas gue,” bisik Gilang di telinga Karin.
Karin mengenali orang tersebut, wajahnya tegang penuh kemarahan. Bukan marah karena tuh cewek datangin Tata, tetapi Karin menatap orang tersebut penuh amarah karena dia adalah...  Mega!
“Bisa minta waktu lo sedikit?” tanya Mega pada Tata, ia tidak memperdulikan teman-teman Tata yang sedang memandangnya.
“Gue nggak bisa! Gue sibuk!” kata Tata ketus tanpa menoleh.
“Sibuk sama teman lo? Lo mentingin mereka daripada gue.”
“Mereka memang lebih penting dari elo.”
Mega hanya diam, semua taman Tata menatapnya bingung. Pertanyaan yang sama berkecamuk di benak mereka masing-masing. Siapa sih nih cewek? Dateng-dateng buat keributan.
Mega menedarkan pandangannya ke teman-teman Tata. Matanya yang terkesan sinis bertemu dengan mata coklat milik Karin.
“Karin?” tanya Mega kaget. Semua perhatian kini tercurah pada Karin. Bingung kenapa Karin bisa mengenal Mega.
Karin hanya menatap Mega dengan kesal.
“Masih marah lo sama gue?” tanya Mega.
Karin hanya diam semiliar bahasa.
“Jangan salahin gue dong kalau kakak elo lebih sayang ke gue pacarnya dibanding elo adiknya.” Perkataan Mega membuat semua tahu bahwa itu adalah Mega yang selama ini diceritakan Karin sebagai pacar kakaknya, dan juga membuat semua sadar bahwa yang diceritakan Karin benar adanya, bahwa Mega orangnya bikin kesel. Serta membuat Karin langsung naik pitam begitu Mega berkata seperti itu.
“Lo diem ato gue cincang mulut elo disini! Dateng-dateng bikin orang kesel aja,” kata Karin sinis yang langsung diancungi jempol oleh teman-temannya.
“Sip, Rin!” kata Bella.
“Mantap, Rin,” ujar Agni.
“Pinter lo,” ucap Beben.
“Bener lo,” sambung Gilang.
Cool, Rin.” Hari mengancungkan jempolnya.
“Sumpah, Rin! Gue bangga punya adek kelas kayak lo yang pinter banget!” kata Tony sambil geleng-geleng kepala.
“Heh! Diem lo semua! Nggak ada yang nyuruh elo semua buat bicara.” Mega naik darah.
“Nah, lo juga siapa yang nyuruh ngomong?” sengit Karin yang membuat Mega terdiam dan yang lain tertawa.
Mega duduk di samping Tata. “kalau elo nggak mau ikut sama gue buat ngomong. Gua bakalan ngomong disini.”
Tata melirik jam tangannya. “Bentar lagi masukkan, ayo balik.” Tata berdiri diikuti oleh yang lain. Satu per satu meninggalkan Mega yang sedang memandang Tata dengan jengkel.


***


Karin menatap jengkel Robbi. Robbi pun menentang mata coklat Karin.
“Dia ikut?” geram Karin.
Mereka sedang ada di seberang sekolah, Robbi memarkir mobilnya disitu tetapi disana juga ada Mega yang juga ikut mobilnya. Di seberang gerbang sekolah tepatnya di belakang spanduk yang cukup besar dan tersembunyi, Tata dan teman-temannya serta Bella ikut menyaksikan pertengkaran dua bersaudara yang terjadi di belakangnya mobil Robbi itu.
“Ya! Kakak ngantar jemput dia mulai hari ini!” tegas Robbi.                                                       
“Karin nggak mau satu mobil sama dia!” Karin ngotot.
“Mau ya mau! Nggak ya nggak!”
“Maksud Kakak?”
“Karin mau ikut Kakak, tapi kalau Karin nggak mau pulang sendiri.”
Karin kaget tujuh belas keliling, ia sampai termundur satu langkah. Ia tak percaya Kakaknya dengan mudah mengatakan seperti itu kepadanya hanya karena seorang Mega? Tapi Karin berhasil mengendalikan dirinya lagi, ia menatap Robbi tanpa ekspresi. Dingin dan kaku. Sesuatu yang jarang terjadi pada diri Karin. Itu tandanya Karin benar-benar tersinggung dan marah. Robbi jadi takut sendiri.
“Jangan antar jemput aku lagi! Nggak usah ngomong sama aku lagi! Anggap adikmu sudah nggak ada atau hilang!” kata Karin yang sangat amat kasar dan kaku.
Gantian Robbi yang kaget. Ia tak percaya Karin akan berkata seperti itu. Tapi ia sadar, Karin memang keras kepala. Belum sempat ia mengucapkan permintaan maaf. Karin lebih dulu masuk taksi yang kebetulan lewat.
Robbi yakin, Karin pasti tidak akan mau bicara dengannya, bahkan menoleh pun tidak. Dengan lesu ia berjalan ke mobil. Di mobil Mega sudah duduk dengan manis. Ia mencetak senyum tersembunyi di bibirnya.
Ia memang berniat membuat hubungan kakak-adik itu hancur. Ia cemburu pada Karin karena Robbi begitu sayang pada Karin bukan padanya. Ia juga ingin balas dendam sama Karin.
“Karinnya mana?” tanya Mega.
Robbi diam, ia menjalankan mobilnya perlahan.
“Robb, Karin mana? Kita mau kemana? Karin nggak ikut kita? Pulang naik apa dia?” pertanyaan bertubi-tubi itu membuat kepala Robbi yang sudah pusing jadi tambah pusing.
“Mega! Kamu bisa diem nggak sih! Aku pusing ini!” bentak Robbi.
Mega terdiam, masih mencetak senyum kemenangan di bibirnya.

destiny (part 11)

“Emang Mega itu anak mana sih, Rin?” tanya Agni ketika mereka sedang berkumpul di kantin.
Karin mengangkat bahunya. “Karin mana tau.”
“Sok banget sih tuh anak,” komentar Beben.
“Belagu,” tambah Hari.
“Sok dan belagu,” jawab Tata kalem.
“Oh iya, Rin. Kapan lo ulang tahun?” tanya Gilang.
Karin menatap Gilang. Ia menjawab sambil mengancungkan tujuh jarinya. “Seminggu lagi. Tanggal 25 Mei ini. Hari minggu.”
“Bentar lagi dong? Ada rencana nggak sama gebetan?” tanya Gilang nakal.
Karin menggerakkan kedua telapak tangannya. “Karin nggak punya gebetan.”
“Sama gue aja, Rin. Dijamin hari-hari elo langsung bahagia sama gue.”
Mendengar itu Karin hanya tertawa.
“Oh iya. Isu-isu yang gue dengar, ada anak baru loh di kelas kita, besok baru datang,” kata Tony.
“Cewek ato cowok?” tanya Agni langsung.
“Cewek. Kenapa emang? Mau?” jawab Tony sambil melirik Bella.
“Hehehe, kalau di bolehin kan kenapa enggak.” Bella langsung memukul bahu Agni.
Semua tertawa.
“Pindahan dari mana, cok?” tanya Tata.
“Dari SMA 10 Melati.”
“Sekolah asrama itu ya?”
“He-eh.”
“Cantik nggak ya?” pikir Tata yang langsung mendapatkan koaran dari teman-temannya.
“Karin marah loh nanti!” seru Agni.
“Karin cemburu,” kata Gilang.
“Karin jengkel,” ucap Tony.
“Karin sewot,” ujar Bella.
“Karin munyak loh,” tambah Hari.
“Karin apa lagi ya?” tanya Beben bego.
“Bego lo,” kata Agni kejam.
“Sebut aja semua, Karin cemburu, jengkel, sewot, munyak, apa lagi?” Karin cemberut.
“Tuh kan, Karin marah-marah,” kata Bella. “Berarti dia beneran cemburu.” Lanjutnya sambil tertawa.
Tata hanya tersenyum mandengar celetukkan teman-temannya. Kemudian ia memeluk tubuh Karin yang ada disebelahnya dan mengecup pipi Karin.
“Jangan marah, sayang,” katanya lembut.
“Norakkk,” teriak Beben.
Karin hanya bisa menyembunyikan wajahnya di telapak tangannya. Asli! Beneran dia malu abis. Pas kantin lagi rame-ramenya lagi, terang aja mereka jadi pusat perhatian.


***


Tata termenung di meja belajarnya. Seminggu lagi Karin ulang tahun. Apa yang akan ia berikan pada Karin? Apakah pada saat itu saat yang tepat waktunya untuk menjalankan rencana Tata?
Tata menghela napas panjang. Ia harus menjalankan rencananya sebelum terlambat, dan rencananya ini harus dengan bantuan teman-temannya. Tata mengambil ponselnya, ia ingn mengdakan pertemuan dengan teman-temannya, termasuk Bella.
Tapi baru saja Tata menekan tombol ponselnya, terdengr suara ketukan pelan dari pintu kamarnya.
“Kak Tata, udah tidur kah? Rani mau minta tolong nih,” terdengar dari luar suara Rani pelan.
“Apa, sayang?” tanya Tata sambil buka pintu.
“Anu, tadi mama minta belikan martabak. Kakak disuruh beli.”
“Rani mau ikut?”
“Nggak. Rani pengen nonton dulu.”
“Oke.”
Tata membatalkan keinginannya untuk mengajak teman-temannya bertemu. Ia langsung cabut dengan mobilnya, dan pergi ke tempat martabak langganan mamanya. Sampai di tempat martabak, Tata langsung pesan.
“Pak, martabaknya satu kotak rasa ayam,” ucapnya, tetapi ucapannya berbarengan dengan seorang gadis yang ada di sebelahnya.
Tata langsung menoleh, dan raut wajahnya langsung berubah.
“Elo!”

 bersambung...

destiny (part 10)

“Karin mau kemana?” tanya Robbi.
“Pulang!” kata Karin yang memberikan kesan ia sedang kesal atau marah.
“Mega nggak mau pulang dulu, yang. Ke mall aja yuk.” Mega merengak pada Robbi.
“Iya, sayang,” kata Robbi.
“Tapi Karin mau pulang,” kata Karin tanpa menoleh dari bukunya.
“Ya, elo pulang aja sendiri sana. Biar kakak elo sama  gue,” kata Mega rada sewot.
Karin langsung naik darah, dari tadi di diemin, Mega malah nyolot.
“Heh! Lo aja sana yang turun. Ngajak-ngajak lagi, overacting lagi. Lo pikir dengan lo pacaran sama kakak gue lo bisa semaunya gitu? Nggak tau diri banget sih lo! Mobil siapa juga, atoran yang di usir itu elo bukan gue!” bentak Karin sambil menatap Mega tajam-tajam.
“Terus mau lo apa kalau gue pacaran sama kakak elo?” kata Mega sambil menunjuk Robbi, yang di tunjuk cuma diam.
“Gue nggak minta apa-apa. Tapi lo harus ngehargain gue dong sebagai adiknya Kak Robbi. Gue sama Kak Robbi udah lima belas tahun, nggak pernah gue secerewet elo. Lah, elo belum aja sebulan udah kayak burung unta. Gimana nanti-nanti?”
Mega langsung terdiam. Robbi pun bungkam.
“Pulang atau lo turun.”


***


“Emang Mega itu anak mana sih, Rin?” tanya Agni ketika mereka sedang berkumpul di kantin.
Karin mengangkat bahunya. “Karin mana tau.”
“Sok banget sih tuh anak,” komentar Beben.
“Belagu,” tambah Hari.
“Sok dan belagu,” jawab Tata kalem.
“Oh iya, Rin. Kapan lo ulang tahun?” tanya Gilang.
Karin menatap Gilang. Ia menjawab sambil mengancungkan tujuh jarinya. “Seminggu lagi. Tanggal 25 Mei ini. Hari minggu.”
“Bentar lagi dong? Ada rencana nggak sama gebetan?” tanya Gilang nakal.
Karin menggerakkan kedua telapak tangannya. “Karin nggak punya gebetan.”
“Sama gue aja, Rin. Dijamin hari-hari elo langsung bahagia sama gue.”
Mendengar itu Karin hanya tertawa.
“Oh iya. Isu-isu yang gue dengar, ada anak baru loh di kelas kita, besok baru datang,” kata Tony.
“Cewek ato cowok?” tanya Agni langsung.
“Cewek. Kenapa emang? Mau?” jawab Tony sambil melirik Bella.
“Hehehe, kalau di bolehin kan kenapa enggak.” Bella langsung memukul bahu Agni.
Semua tertawa.
“Pindahan dari mana, cok?” tanya Tata.
“Dari SMA 10 Melati.”
“Sekolah asrama itu ya?”
“He-eh.”
“Cantik nggak ya?” pikir Tata yang langsung mendapatkan koaran dari teman-temannya.
“Karin marah loh nanti!” seru Agni.
“Karin cemburu,” kata Gilang.
“Karin jengkel,” ucap Tony.
“Karin sewot,” ujar Bella.
“Karin munyak loh,” tambah Hari.
“Karin apa lagi ya?” tanya Beben bego.
“Bego lo,” kata Agni kejam.
“Sebut aja semua, Karin cemburu, jengkel, sewot, munyak, apa lagi?” Karin cemberut.
“Tuh kan, Karin marah-marah,” kata Bella. “Berarti dia beneran cemburu.” Lanjutnya sambil tertawa.
Tata hanya tersenyum mandengar celetukkan teman-temannya. Kemudian ia memeluk tubuh Karin yang ada disebelahnya dan mengecup pipi Karin.
“Jangan marah, sayang,” katanya lembut.
“Norakkk,” teriak Beben.
Karin hanya bisa menyembunyikan wajahnya di telapak tangannya. Asli! Beneran dia malu abis. Pas kantin lagi rame-ramenya lagi, terang aja mereka jadi pusat perhatian.


***


Tata termenung di meja belajarnya. Seminggu lagi Karin ulang tahun. Apa yang akan ia berikan pada Karin? Apakah pada saat itu saat yang tepat waktunya untuk menjalankan rencana Tata?
Tata menghela napas panjang. Ia harus menjalankan rencananya sebelum terlambat, dan rencananya ini harus dengan bantuan teman-temannya. Tata mengambil ponselnya, ia ingn mengdakan pertemuan dengan teman-temannya, termasuk Bella.
Tapi baru saja Tata menekan tombol ponselnya, terdengr suara ketukan pelan dari pintu kamarnya.
“Kak Tata, udah tidur kah? Rani mau minta tolong nih,” terdengar dari luar suara Rani pelan.
“Apa, sayang?” tanya Tata sambil buka pintu.
“Anu, tadi mama minta belikan martabak. Kakak disuruh beli.”
“Rani mau ikut?”
“Nggak. Rani pengen nonton dulu.”
“Oke.”
Tata membatalkan keinginannya untuk mengajak teman-temannya bertemu. Ia langsung cabut dengan mobilnya, dan pergi ke tempat martabak langganan mamanya. Sampai di tempat martabak, Tata langsung pesan.
“Pak, martabaknya satu kotak rasa ayam,” ucapnya, tetapi ucapannya berbarengan dengan seorang gadis yang ada di sebelahnya.
Tata langsung menoleh, dan raut wajahnya langsung berubah.
“Elo!” 

rahasia sehat lady gaga


kesibukan cewek yang selalu nyentrik di atas panggung ini kayak nggak ada habisnya. Nggak heran kalau dia kecapekan dan sempat pingsan waktu konser di Selandia Baru awal tahun ini. Meskipun demikian, dia nggak berniat untuk mengurangi kegiatannya. Untungnya, kini Lady Gaga tampil lebih fit. Apa rahasianya?

Melalui koreografernya, LaurieAnn Gibson, diketahui kalau pelantun Poker Face ini melakukan olah tubuh dengan menari. “Dia suka menari salsa,” ungkap koreografer handal tersebut.

Selain menari, diketahui juga Lady Gaga menjaga tubuh sehatnya dengan memperhatikan asupannya. “Dia makan kripik gandum, tahu, kalkun, dan minum air kelapa,” tambah sang koreografer.

Lalu makanan apa lagi sih, yang dimakan oleh cewek yang sempat mendapat julukan sebagai ratu Twitter baru-baru ini? “Kami biasanya menyiapkan satu atau dua tangkap roti panggang dengan sedikit anggur putih,” timpal koreografer yang pernah dinobatkan sebagai koreografer terbaik dari MTV Music Awards untuk video klip Bad Romance dan Telephone ini.

Cewek berusia 24 tahun ini melakukan diet sehat demi kebugaran tubuhnya supaya bisa menunjang aktivitasnya yang padat. Lady Gaga juga selalu berusaha agar tidak terjerat dengan pola diet yang tidak sehat

destiny (part 9)

Karin dan Bella berjalan ke perpustakaan. Istirahat kedua—55 menit—ini ingin mereka isi dengan membaca buku yang ada di perpustakaan. Tinggal melewati koridor ruang ekskul tari, mereka akan sampai di perpustakaan.
Baru saja mereka menjejakkan kaki di koridor, Karin dan Bella dicegat oleh Dilla dan Karin. Belum sempat memberikan reaksi apapun, Karin langsung didorong oleh Victor dengan kasar ke dinding koridor dan Bella didorong oleh Dilla menjauhi dinding koridor.
“Gue peringatin! Awas lo kalau deketin Tata lagi. Gue libas lo baru tau!” Victor langsung ke pokok permasalahan.
Karin sempat terpana, kemudian ia sadar. Bukan Karin namanya kalau tidak nantang.
“Kalau gue nggak mau?” tantang Karin.
Victor tersenyum sinis. “Lo nggak tau ya? Gue bisa aja ngeluarin elo dari sekolah. Seoalnya bokap gue anggota yayasan sekolah ini.”
Gantian Karin yang tersenyum lebar tetapi tidak sinis. “Lo juga nggak tau ya? Siapa ketua yayasan sekolah ini?”
“Ya jelas gue tau lah,” kata Victor dengan gayanya yang selangit.
“Lo tau siapa namanya?” tanya Karin sambil meju selangkah.
“Jelas! Bapak Darma Agung Finansi! Kenapa lo nanya-nanya? Emang lo nggak tau ya? Kasian deh lo.”
“Lo tahu siapa aja anaknya?” tantang Karin.
“Muhammad Robbi Finansi dan Karin Finansi.” Victor mulai takut-takut.
“Lo tau nama panjang gue?”
“Ih, ngapain sih gue perlu nama lo?! Gue cuma perlu Tata kali!”
My name is Karin Finansi!” kata Karin mengejutkan Dilla dan Victor sambil mengeluarkan kartu tanda anggota perpustakaannya. “Jadi gue juga bisa ngeluarin elo dari sekolah ini. Bahkan, meminta bokap gue buat mecat bokap lo. Tapi, gue nggak bakalan tega. Lo masih aman, selama elo bisa jaga kelakuan sama gue.”
Dengan santai Karin mendorong sedikit Victor dan melangkah menuju perpustakaan. Diikuti oleh Bella di sampingnya.
Hahaha, emang enak gue serang balik? Makanya jadi orang nggak usah sok deh! I also could strike behind you. Batin Karin senang.
“Kok bisa kayak gini? kalau kita ngotot ngerjain dia, bunuh diri namanya.” Dilla mendekati Victor yang masih terpaku di tempatnya.

***

Karin menjulurkan wajah di gerbang sekolah. Ia ingin membuktikan bahwa Robbi benar-benar datang menjemputnya di sini, dan ternyata benar mobil sedan Robbi berwarna putih berplat B1203bi ada di seberang gerbang.
Setelah yakin tak ada mobil lewat, Karin menyebraqng dengan hati-hati. Robbi sedang bersandar di depan mobil dengan wajah yang terlihat senang. Karin mendekatinya.
“Ayo,” ajak Robbi sambil berjalan ke pintu penumpang belakang dan membuka pintunya menyilahkan Karin masuk.
Karin menatap kakakknya dengan alis terangkat tinggi-tinggi. Karin bingung, biasanya setiap naik mobil Karin selalu duduk di depan di samping pengemudi. Sekarang ia duduk dibelakang. Kok bisa?
“Ada Mega di depan.” Robbi menjelaskan.
Wajah Karin yang tadi terlihat cerah jadi mendung lagi mendengar nama Mega. Apalagi tempat biasa dia duduk diambil alih sama Mega. Karin langsung saja memaki-maki Mega dalam lubuk hatinya yang paling dalam.
Dengan lesu Karin masuk ke dalam mobil. Perubahan itu dapat dirasakan Robbi, dalam hati Robbi mengeluh panjang, ia ingin hubungan antar adik dan pacarnya baik-baik saja tapi karena kemarin kesalahannya semua langsung berubah dari rencananya.
Selama perjalanan mulut Karin tidak terbuka sedikit pun, padahal biasanya dia yang paling cerewet. Ia pura-pura membaca novel. Tetapi Robbi tahu itu hanya alasan agar tidak berbicara. Malah Mega yang super duper cerewet. Karin jadi heran sendiri, Robbi kok bisa ya pacaran sama Mega yang cerewetnya melebihi Karin.
“Lo mau kemana, Rin?” tanya Mega tiba-tiba.
Karin melirik ke depan, setelah itu ia kembali membaca novel tanpa bicara apapun. Mega jadi dongkol sendiri.
“Karin mau kemana?”

sampai sini dulu yaa... part setelahnya belum ku buat... :)

destiny (part 7)

“Yang, itu siapa?” tanyanya sambil mencolek Robbi.
Robbi menoleh ke arah yang ditunjuk. Ia melihat Karin yang sedang menatapnya tajam-tajam. Robbi langsung teringat janjinya pada Karin untuk menjemput jam 04.00. ia melihat jam di tangannya, 04.50. Robbi langsung menepuk dahinya.
“Ma...”
Karin langsung memotong omongan Robbi. “Oh, nggak apa-apa kok. Nonton aja terus sampai jam sepuluh malam. Nggak apa-apa kok, pacaran aja terus sampai lupa waktu. Nggak usah jemput Karin. Nggak apa-apa kok, biar Karin belumutan disana, perut keroncongan, nahan sinar matahari, biar nggak ada yang jemput Karin. Biar, emang Kakak peduli? Nggak kan? Malah orang lain yang peduli.”
Omongan Karin seakan menampar pipi Robbi dengan keras. Apalagi Karin ngomongnya penuh penekanan, sambil menatap tajam pada Robbi dan ceweknya.
Cepat-cepat Karin ke atas dan menutup pintu dengan bantingan keras. Membuat Robbi makin bersalah, dengan langkah panjang ia mendatangi kamar Karin, diketuknya pintunya. Diikuti oleh pacarnya dari belakang.
“De.. Ade.. Buka dong, Kakak mau ngomong.”
Karin membuka pintu, terlihat ia sudah mengganti seragamnya dengan T-shirt dan celana pendek. Meskipun Karin membuka pintu, ia terus saja berjalan ke lantai bawah tanpa menoleh sedikitpun pada Robbi.
Karin terus berjalan ke dapur diikuti oleh Robbi dan ceweknya. Ia melihat ada apa di dapur. Ada lauk pauk dan nasi goreng buatan Bi Minah, pembantu Karin. Karin mengambil nasi goreng dan lauk pauk di piringnya dan memakannya di meja makan. Di depannya ada Robbi dan ceweknya, tapi Karin cuek aja. Ngapain ngurusin orang yang mikirin diri sendiri dan ingkar janji.
“Rin, maafin Kakak ya. Kakak lupa tadi,” kata Robbi dengan penuh penyesalan. Tapi Karin tidak memberikan respon apapun.
Robbi terus berbicara, tetapi Karin tetap tidak memberikan respon. Ceweknya Robbi jadi naik darah melihat tingkah Karin yang menurutnya terlalu berlebihan.
“Rin, kalau Kakakmu ngomong di jawab dong,” kata ceweknya Robbi yang langsung mendapat lirikan tajam oleh Karin.
Karin menghentikan makannya.
“Siapa nama lo?” tanya Karin, yang menurut Robbi kasar banget.
Robbi tertegun, biasanya Karin nggak pernah ngomong kasar sama orang yang baru dilihatnya. Ini pertanda bahwa Karin bener-bener marah.
“Mega,” jawab cewek Robbi yang bernama Mega itu.
“Oke, Mega. Terserah gue dong mau ngomong apa nggak sama Kakak gue! Lagipula dia ngomong sebagai Kakak gue bukan sebagai pacar elo! Jadi nggak usah ikut campur.”
Setelah berkata seperti itu, Karin langsung meminum habis air minumnya dan berjalan ke kamarnya kembali. Karena ponselnya berbunyi. Ia segera menutup pintu dan menjawab telepon. Sebelum menjawab ia melihat dulu nama yang tertera di layar ponselnya, Tata.
“Halo,” sapa Karin.
“Udah nyampe dirumah, gue.” Tata langsung nyerocos.
Karin berjalan menjauhi pintu mendekati jendela, karena pintu mulai diketuk oleh Robbi lagi.
“Bagus dong,” respon Karin.
“Sudah makan?”
“Baru aja selesai makan.”
Suara ketukan pintu terdengar makin jelas. Tata saja sampai mendengar. Tapi lama-lama suara ketukan itu menghilang dengan sendirinya.
“Kenapa tuh, Rin?” tanya Tata.
“Nggak cuma Kakak Karin ketuk-ketuk pintu kamar.”
“Oh, kenapa emang?”
“Ngg...” Karin ragu-ragu bercerita.
“Pribadi ya? Nggak apa-apa kok kalau nggak mau cerita.”
“Eh, nggak apa-apa kok.” Karin langsung menceritakan kejadian tadi. Dari ia berdiri di pintu sampai kembali ke kamar.
Tata mendengarkan tanpa mencela sedikit pun.
“Sabar, Rin. Kakak lo juga nggak bisa disalahin kali. Manusia kan juga bisa lupa. Kamu juga bisa lupa kan? Kakak lo juga.” Tata menasehati Karin
“Nggak sih, Karin nggak marah, cuma Karin kesel aja.”
Tata tertawa kecil. “Marah sama kesel apa bedanya, Rin?”
Karin garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Apa ya? Karin juga nggak tau.” Kemudian Karin tertawa kecil.
Dengan komunikasi ponsel, Karin dan Tata kembali bercanda dan tawa. Mereka tidak menyadari bahwa ada seseorang yang sejak dari sekolah mengikuti mereka dengan tatapan yang ingin menikam.
Orang itu adalah Victor!

destiny (part 8)

Karin berjalan ke gerbang sekolah dengan lesu, pagi ini ia berangkat sekolah tidak di antar kakakknya melainkan ayahnya. Ayahnya juga sekalian ke sekolah karena ayah Karin adalh ketua yayasan SMA Brawijaya Robbi hari ini mengantar Mega sekolah, ternyata Mega masih SMA kelas dua. Dalam hati Karin langsung memaki-maki Mega, ketika Robbi bilang tidak bisa mengantar.
Sekarang Karin merasa Robbi lebih pentingin Mega daripada dirnya. Karin jadi sedih sendiri.
Kebetulan ketika Karin sampai di gerbang sekolah, Tata pun baru saja memarkirkan mobilnya. Tata melihat Karin berjalan dengan wajah tertunduk, dan langkahnya gontai, perlahan Tata mendekati Karin. Dan berjalan disebelah Karin.
“Kenapa lo?” Tata langsung mengagetkan Karin.
Karin langsung tergagap. “Eh.. nggak... Karin nggak apa-apa.”
Setelah berkata seperti itu Karin langsung berjalan cepat-cepat, tapi bukan Tata namanya kalau langsung menyerah. Tata langsung mengambil langkah seribu untuk menjajari langkah Karin.
“Jangan bohong lo,” ancam Tata. Karin tahu itu hanya candaan, karena suara Tata begitu lembut saat mengucapkan ancaman itu.
Karin menghentikan langkahnya dan menoleh pada Tata yang ikut berhenti, lalu ia menjulurkan lidahnya panjang-panjang, lalu ia kembali berjalan. Tata tertawa kecil, ia kembali menjajari langkah Karin sambil merangkul bahu Karin. Tata mengantar Karin sampai depan kelasnya.
“Makasih,” kata Karin sambil nyengir, memamerkan gigi yang putih dan rapi.
“Sip.” Tata berjalan menjauhi kelas Karin, walaupun kaki melangkah, pandangannya tidak lepas dari Karin. Sampai di perempatan koridor baru ia memalingkan wajahnya.
Mereka tidak menyadari dari tadi ada yang memperhatikan mereka dari gerbang sampai ke kelas masing-masing. Orang itu adalah Victor dengan sahabatnya, Dilla.
“Kurang ajar tuh cewek. Gatel banget sih!” ucap Victor berapi-api.
“Sabar, Vic. Siapa tuh adiknya,” kata Dilla menenangkan.
“Adiknya cuma satu tau! Itupun masih SMP!”
“Ehmm.. adik sepupu mungkin.”
“Kalau adik sepupu kenapa nggak berangkat bareng-bareng?” Victor tetap ngotot.
Akhirnya Dilla mengalah pada Victor.

***

“Hei! Lo suka sama Karin nggak ngomong-ngomong ya sama kita!” tiba-tiba lima temannya Tata mengagetkan Tata saat istirahat pertama tiba. Saat Tata sedang menuruni tangga ingin ke kantin.
Mendengar seruan temannya, Tata hanya bisa tersenyum tipis.
“Cie, Tata. Tumben lo suka sama cewek. Gue kira lo homo,” kata Gilang yang langsung mendapat jitakan Tata.
“Gue bilang juga apa.” Tony ikut nimbrung.
Yang diolokin hanya bisa cengengesan.
“Lo sih. Seminggu ini kita dapat pembuktian tiga kali,” kata Beben tiba-tiba.
“Apaa tuh?” tanya Hari langsung.
“Pertama Agni ternyata suka sama cewek. Dua Tata ternyata bukan homo. Tiga Tata dan Agni ternyata bukan pasangan homo.” Beben menjelaskan dengan nada yang seolah-olah ia sedang mengucapkan janji presiden.
Tata dan Agni berpandangan sejenak. Kemudian mereka langsung menjitaki Beben. Yang dijitakin hanya bisa mengerang pasrah. Dengan canda tawa mereka bersama-sama ke kantin.
Sampai di kantin mata Agni langsung mencari-cari.
“Tuh!” Tata menunjuk salah satu sudut kantin.
Sudut itu ternyata dihuni oleh Karin dan Bella. Terlihat Karin dan Bella asyik menikmati bakso masing-masing. Melihat itu wajah Agni langsung cerah.
“Thanks, Bro.” Agni menepuk bahu Tata.
Kemudian Agni mengajak teman-temannya duduk di sebelah Bella dan Karin. Sampai disana Agni langsung duduk di sebelah Bella. Sedangkan Tata duduk di sebelah Karin, Tata langsung mendapat senyuman tersembunyi dari teman-temannya.
Bella dan Karin hanya bisa diam sambil tersenyum melihat dan mendengar celetukan-celetukkan dari teman-teman Tata dan Agni.
“Kasian banget sih nasib kita. Jomblo terus,” celetuk Tony.
“Kita? Lo aja kali,” sahut Beben.
“Rin, lo mau nggak sama gue?” canda Hari.
Karin tersenyum. “Nggak, makasih. Karin masih normal, Kak.”
Mendengar jawaban dari Karin, semua tertawa. Beben dan Tony sampai terbungkuk-bungkuk.
“Dan juga nanti ada yang marah tuh, Har!” kata Tony setelah tawanya mereda.
“He-eh, gue juga tau lagi. Orang gue cuma becanda doang,” sahut Hari.
Tata memalingkan wajahnya, sedangkan Karin pura-pura tidak mendengar.
Lagi-lagi mereka tidak menyadari bahwa Victor dan Dilla sejak tadi memperhatikan mereka dari meja seberang. Walau terlihat tak acuh mereka memasang telinga tajam-tajam di tengah ributnya kantin.
Victor menahan geram dengan gigi geraham yang ia tekan kuat-kuat. Ia berdiri dan berjalan menjauhi kantin, tidak peduli dengan siomay-nya yang belum sempat disentuh. Dilla dengan cekatan mengikuti langkah Victor yang panjang-panjang.
“Enaknya, gue apain tuh anak?” tanya Victor berapi-api.