lanjutan tadi tapi settingnya ku ganti. setiap part ku ganti settingnya. :)
Baru saja Karin dan Bella ingin keluar kelas, tiba-tiba Tata dkk langsung mencegat mereka.
“Siapa yang suruh pulang?” tanya Tata tajam.
“Ha? Kan bel udah bunyi? Boleh pulang dong?” kata Karin, heran sudah bel kok mereka malah ditanyain gitu.
“Lo lupa yang gue bilang tadi pagi?” tanya Tata.
Nah ini, kalau soal ingat mangingat Karin itu bolot asli! sangat pelupa!
“Ha? Tadi pagi? Tadi pagi kan kakak cuma koar-koar aja didepan anak MOS?” kata Karin.
“Lo itu bolot atau pelupa?”
“Kejam amat panggilannya.” Karin meringis, sedangkan Bella tak bereaksi apa-apa, takut.
“Lo itu ya! Baru kelas sepuluh udah nyolot gini? Gimana besarnya?”
“Besarnya...” Karin pura-pura berfikir. “Jadi dokter dong kak.”
Tata dan lima temannya langsung tertawa ngakak.. geli dengan joke jayusnya Karin.
“Emang ada dokter sekecil ini tingginya?” kata Tata setelah tawanya reda. Sambil menundukkan kepalanya agar sejajar dengan Karin.
Refleks Karin mundur satu langkah agar menciptakan jarak, sayangnya ia hanya bisa mundur satu langkah karena di belakangnya ada meja.
Merasa tersinggung Karin menentang kedua mata hitam Tata dengan mata coklatnya. “Emang salah? Biar Karin mungil tapi yang penting ini.” Karin mengetuk-ngetuk kepalanya. “Percuma kan tinggi tapi kosong otaknya.”
Tepat sasaran, Karin memang pintar, waktu smp saja ia dan Bella masuk akselerasi. Tapiia juga tidak menyinggung Tata dkk. Kerena Tata dkk itu pintar-pintar juga.
Tata naik darah. Ia maju selangkah agar jarak antara dirinya dan Karin berkurang. Di pegangnya ujung meja dengan dua tangan, di kurungnya Karin dalam rentangan tangannya. Membuat Karin serta Bella menahan napas.
“Sekali lagi lo nyolot. Nggak selamat lo.” Tata merendahkan kepalanya, sehingga hidungnya dengan hidung Karin hanya berjarak satu sentimeter.
“Emang Karin takut? Kakak kan juga makan nasi, ngapain takut?” tantang Karin, waduh, benar-benar cari masalah dia.
“Nggak perlu lo takut! Tapi hormati gue sebagai kakak kelas lo,” bentak Tata.
“Gimana kakak mau dihargain kalau nggak pernah menghargain orang lain?” balas Karin sengit.
“Sekali lagi lo nyolot, gue cium lo,” ancam Tata.
Karin menatapnya kaget. Speechless! Refleks ditutup mulutnya dengan satu tangan dan tangan lainnya mendorong tubuh tinggi Tata.
“Jangan kurang ajar kakak!” kata Karin sambil pergi. Bella buru-buru mengikuti. Tetapi tangannya di cekal kak Agni.
“Bilangin teman lo, maafin Tata, Tata emang begitu orangnya,” katanya pelan, sehingga yang bisa mendengar hanya dirinya dan Bella.
Bella hanya mengangguk.
“Karinn,” panggil Bella sambil berlari ke tempat Karin berdiri, gerbang sekolah.
“Apa?” tanya Karin ketus.
“Ketus amat. Eh, katanya kak Agni. Maafin si kak Tata, dia emang begitu katanya.”
“Siapa lagi tuh Agni?”
“Yang masuk Tata dkk itu.”
“Percuma, kurang ajar banget tuh orang! Ngancem-ancem mau nyium pula!” kata Karin berapi-api.
Bella hanya tersenyum, kemudian ia melihat jemputannya datang. “Kar, gue duluan ya, udah di jemput.”
Karin mengangguk. Tak lama setelah Bella pergi ia menelpon kakaknya. “Kakak ada dimana? Jemput Karin.” Ia menunggu jawaban. “Kok nggak bisa? Ayah mana? Ibu?” ia kembali menunggu jawaban. “Ha? Pulang naik taksi? Kasian amat Karin? Ya sudah deh.” Karin akhirnya menyerah.
Setelah ditutup telpon, ia celingak-celinguk cari taksi. Tapi belum tuh taksi nggak nongol-nongol.
“Cari apa, Kar?” seseorang mengejutkan Karin, seketika Karin berbalik. Tapi ia melengos dan membuang muka ketika tahu siapa yang mengejutkannya. Tata!
“Ditanyain malah buang muka,” sungut Tata. Tapi tak ada reaksi dari Karin, kemudian ia duduk di bangku semen dekat situ.
“Karin sini, duduk,” ajak Tata.
Karin berfikir sejenak, setelah dipikir baik-baik. Ia duduk di sebelah Tata.
“Lagi nunggu apa?”
“Taksi,” kata Karin pendek.
“Loh? Nggak di jemput?” tanya Tata heran.
“Kakak Karin nggak bisa jemput, katanya lagi nyusun skripsi. Ayah sama Ibu lagi sibuk di kantor. Jadi terpaksa Karin naik taksi.”
“Kenapa nggak naik angkot saja? Banyak tuh angkot lewat.”
“Karin pasti nggak dibolehin sama kakak Karin.”
“Emang kakak lo cewek atau cowok?” tanya Tata.
“Cowok.”
“Mau gue anterin sampai rumah?” tawar Tata.
“Nggak, nggak usah. Karin nunggu taksi aja.” Karin langsung menolak. Bukan apa-apa. Ia hanya merasa grogi kalau di anter pulang sama cowok selain kakak dan ayahnya.
“Ya, udah. Gue tungguin ya, sampai lo dapat taksi? Soalnya disini taksi jarang lewat. Lo bisa nunggu ampe sore.” Tata kembali menawarkan usul.
Karin mengangguk. Sejenak mereka terdiam, bingung mau bicara apa.
“Mata lo beneran coklat ya?” tanya Tata.
“He-eh. Kenapa?”
“Warnanya cantik. Jarang cewek Indonesia warna matanya coklat asli.”
“Keturunan. Ibu Karin aja matanya coklat lumpur, lebih indah.”
“Rambut lo?”
“Kenapa rambut Karin?”
“Asli ikal dan coklat kah?”
“Ya iyalah.” Karin rada sewot. Masa dikira palsu? Nggak terima dia.
“Eh, ada taksi tuh mau lewat. Ntar gue stopin.” Tata berdiri dan menjulurkan tangan ke taksi itu.
Karin menatap Tata sambil tersenyum. Ternyata ada juga kebaikan dalam diri cowok jangkung itu. Banyak juga nilai minus, plus, dan misteriusnya dalam diri Tata.
Plusnya : cakep, imut, tinggi, gentle, berdagu tegas, dada six pack, lengan berotot.
Minusnya : suka nindas! Semaunya! Nggak tau situasi! Kejam!
Misteriusnya: jombloman sejati!!!
Aneh kan? Selama di sekolah ini—3 tahun—tidak pernah kabar berita tentang asmara Tata. Banyak memang cewek di sekitarnya, tapi ia tidak peduli. Katanya “biarin saja, suka-suka dia mau ngapain deket gue. Nggak peduli gue”. Tapi yang mengherankan juga, biarpun dia berkata seperti itu. Tetap saja matanya jelalatan kalau melihat cewek-cewek.
“Rin, Karin?” Tata mengibas-ibaskan tangannya di depan wajahnya Karin.
“Hah? Iya kak?” Karin kaget.
“Kenapa lo? Ngeliatin gue sambil senyum-senyum gitu? Naksir lo sama gue?”
Wajah Karin sontak memerah. Tapi ditepisnya dugaan Tata itu. “Emang harus semua cewek gitu naksir kakak? Nggak juga tuh.”
“Nggak usah bo’ong lo. Muka lo merah gitu kok.”
“Ih.” Karin melengos sambil mengibaskan tangannya.
“Masuk nih! Taksinya nungguin.” Tata mendorong Karin masuk ke dalam taksi, ia mengulurkan selembar uang seratus ribu ke sopirnya. Tapi Karin menahannya.
“Nggak, biar Karin aja yang bayar. Kak Tata nggak usah.”
Tapi Tata tidak peduli, tetap diulurkannya. Sopir itu mengambil. Tata menutup pintu taksi dan kemudian mengetuk jendelanya, meminta Karin menurunkannya.
Tata menaruh lengannya di tepi kaca yang kini terbuka lebar. “Sampai ketemu besok.” Tata menepuk kepala Karin. “Jalan, Pak.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar