“Karin mau kemana?” tanya Robbi.
“Pulang!” kata Karin yang memberikan kesan ia sedang kesal atau marah.
“Mega nggak mau pulang dulu, yang. Ke mall aja yuk.” Mega merengak pada Robbi.
“Iya, sayang,” kata Robbi.
“Tapi Karin mau pulang,” kata Karin tanpa menoleh dari bukunya.
“Ya, elo pulang aja sendiri sana. Biar kakak elo sama gue,” kata Mega rada sewot.
Karin langsung naik darah, dari tadi di diemin, Mega malah nyolot.
“Heh! Lo aja sana yang turun. Ngajak-ngajak lagi, overacting lagi. Lo pikir dengan lo pacaran sama kakak gue lo bisa semaunya gitu? Nggak tau diri banget sih lo! Mobil siapa juga, atoran yang di usir itu elo bukan gue!” bentak Karin sambil menatap Mega tajam-tajam.
“Terus mau lo apa kalau gue pacaran sama kakak elo?” kata Mega sambil menunjuk Robbi, yang di tunjuk cuma diam.
“Gue nggak minta apa-apa. Tapi lo harus ngehargain gue dong sebagai adiknya Kak Robbi. Gue sama Kak Robbi udah lima belas tahun, nggak pernah gue secerewet elo. Lah, elo belum aja sebulan udah kayak burung unta. Gimana nanti-nanti?”
Mega langsung terdiam. Robbi pun bungkam.
“Pulang atau lo turun.”
***
“Emang Mega itu anak mana sih, Rin?” tanya Agni ketika mereka sedang berkumpul di kantin.
Karin mengangkat bahunya. “Karin mana tau.”
“Sok banget sih tuh anak,” komentar Beben.
“Belagu,” tambah Hari.
“Sok dan belagu,” jawab Tata kalem.
“Oh iya, Rin. Kapan lo ulang tahun?” tanya Gilang.
Karin menatap Gilang. Ia menjawab sambil mengancungkan tujuh jarinya. “Seminggu lagi. Tanggal 25 Mei ini. Hari minggu.”
“Bentar lagi dong? Ada rencana nggak sama gebetan?” tanya Gilang nakal.
Karin menggerakkan kedua telapak tangannya. “Karin nggak punya gebetan.”
“Sama gue aja, Rin. Dijamin hari-hari elo langsung bahagia sama gue.”
Mendengar itu Karin hanya tertawa.
“Oh iya. Isu-isu yang gue dengar, ada anak baru loh di kelas kita, besok baru datang,” kata Tony.
“Cewek ato cowok?” tanya Agni langsung.
“Cewek. Kenapa emang? Mau?” jawab Tony sambil melirik Bella.
“Hehehe, kalau di bolehin kan kenapa enggak.” Bella langsung memukul bahu Agni.
Semua tertawa.
“Pindahan dari mana, cok?” tanya Tata.
“Dari SMA 10 Melati.”
“Sekolah asrama itu ya?”
“He-eh.”
“Cantik nggak ya?” pikir Tata yang langsung mendapatkan koaran dari teman-temannya.
“Karin marah loh nanti!” seru Agni.
“Karin cemburu,” kata Gilang.
“Karin jengkel,” ucap Tony.
“Karin sewot,” ujar Bella.
“Karin munyak loh,” tambah Hari.
“Karin apa lagi ya?” tanya Beben bego.
“Bego lo,” kata Agni kejam.
“Sebut aja semua, Karin cemburu, jengkel, sewot, munyak, apa lagi?” Karin cemberut.
“Tuh kan, Karin marah-marah,” kata Bella. “Berarti dia beneran cemburu.” Lanjutnya sambil tertawa.
Tata hanya tersenyum mandengar celetukkan teman-temannya. Kemudian ia memeluk tubuh Karin yang ada disebelahnya dan mengecup pipi Karin.
“Jangan marah, sayang,” katanya lembut.
“Norakkk,” teriak Beben.
Karin hanya bisa menyembunyikan wajahnya di telapak tangannya. Asli! Beneran dia malu abis. Pas kantin lagi rame-ramenya lagi, terang aja mereka jadi pusat perhatian.
***
Tata termenung di meja belajarnya. Seminggu lagi Karin ulang tahun. Apa yang akan ia berikan pada Karin? Apakah pada saat itu saat yang tepat waktunya untuk menjalankan rencana Tata?
Tata menghela napas panjang. Ia harus menjalankan rencananya sebelum terlambat, dan rencananya ini harus dengan bantuan teman-temannya. Tata mengambil ponselnya, ia ingn mengdakan pertemuan dengan teman-temannya, termasuk Bella.
Tapi baru saja Tata menekan tombol ponselnya, terdengr suara ketukan pelan dari pintu kamarnya.
“Kak Tata, udah tidur kah? Rani mau minta tolong nih,” terdengar dari luar suara Rani pelan.
“Apa, sayang?” tanya Tata sambil buka pintu.
“Anu, tadi mama minta belikan martabak. Kakak disuruh beli.”
“Rani mau ikut?”
“Nggak. Rani pengen nonton dulu.”
“Oke.”
Tata membatalkan keinginannya untuk mengajak teman-temannya bertemu. Ia langsung cabut dengan mobilnya, dan pergi ke tempat martabak langganan mamanya. Sampai di tempat martabak, Tata langsung pesan.
“Pak, martabaknya satu kotak rasa ayam,” ucapnya, tetapi ucapannya berbarengan dengan seorang gadis yang ada di sebelahnya.
Tata langsung menoleh, dan raut wajahnya langsung berubah.
“Elo!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar