destiny (part 5)

Hari ini, hari yang paling ditunggu-tunggu oleh Karin. Hari ketiga MOS sekaligus hari terakhir. Ia dan semua teman-temannya menyambut hari ini dengan sangat gembira. Lantaran MOS (bisa dibilang neraka bagi junior) segera berakhir.
Tapi mungkin kegembiraan itu hanya dipermukaan karena, hari ini desas-desus yang didengar akan berjalan sampai sore dan akan seperti neraka di bumi. Banyak junior yang gentar-gentir mendengar isu itu.
Tak terkecuali Karin. Kejadian kemarin membuat dirinya meningkatkan waspada berratus-ratus kali lipat dari biasanya. Jangan sampai deh isu itu terulang kembali. Sudah cukup.
Ketika Karin sampai di kelasnya. Kelas sudah sangat ramai, terlihat banyak orang di kelasnya. Entah itu dari mana saja. Karin harus bersusah payah untuk duduk di kursinya sendiri. Dirnya terdorong kesana kemari, bahkan dirinya sampai ada di labirin kursi deretan ke tiga, padahal tempat duduknya ada di deretan kedua.
Karin mencoba lagi untuk duduk. Tiba-tiba ada tangan yang mengenggam tangannya dan menariknya ke depan kelas. Sejenak Karin merasa tangan itu begitu hangat, begitu lembut memegang tangannya.
Karin terpana melihat siapa yang memegang tangannya. Yang memegang tangannya adalah . . . Tata!!!
Tata tersenyum padanya. Bukan senyum merendahkan seperti sebelumnya, melainkan senyuman yang hangat untuk Karin. Tangannya pun masih menggenggam tangan Karin. Dibelakangnya ada para temannya, tapi hanya empat bukan lima.
“Pengen tau apa yang terjadi disini?” tanyanya lembut sambil tersenyum misterius.
Karin mengangguk. Sebagai jawaban Tata menunjuk arah kursi sebelah Karin alias kursi Bella. Karin menoleh dan ia melihat Bella sedang duduk dengan wajah tertunduk menahan malu. Tetapi Karin juga melihat Agni berdiri di sebelah Bella dengan memegang buket bunga mawar merah, dari ekspresi wajahnya terlihat Agni sangat tegang juga terlihat sedikit kegembiraan. Matanya tertancap lurus pada Bella. Karin langsung tahu apa yang terjadi.
“Kak Agni nembak Bella?” tanya Karin pada Tata tanpa mengalihkan pandangannya dari Bella.
“Yap!”
“Jawaban Bella?”
“Belum, lo nggak liat  mukanya Angi tegang gitu nunggu jawaban dari Bella.”
Karin tersenyum kecil. “Pilihan bunganya bener. Bella suka mawar merah.”
Ketika Karin selesai mengucapkan kalimatnya, wajah Bella terangkat. Wajah yang merona menahan malu, dan juga—mungkin hanya pandangan Karin saja—kegembiraan. Mata Bella dan mata Karin bertemu. Bella member isyarat mata pada Karin yang menandakan dirinya lagi malu. Dan Karin hanya tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya pada Bella.
Bella mengangkat kepalanya lebih tinggi lagi. Ia menatap Agni dengan pandangan yang sulit diartikan. Tiba-tiba ia berdiri dan menarik tangan Agni keluar kelas.
Semua berpandangan, mungkin dibenak mereka hampir sama bertanya. ‘kemana mereka?’ tapi tak ada yang tahu. Sejenak menunggu, akhirnya para siswa dan siswi kembali ke kelas-masing-masing karena sepuluh menit lagi bel berbunyi. Tetapi baru saja berbalik menghadap depan dan akan melangkahkan kaki, mereka berhenti kembali.
Semua mata menatap Karin dan Tata. Senyum terpampang jelas di wajah mereka.
“Kayaknya ada yang jadian lagi nih,” teriak satu anak dengan lantangnya.
Langsung saja yang lain mengiyakan. Karin dan Tata berpandangan tidak mengerti. Teman-teman Tata pun hanya tersenyum-senyum penuh misteri.
“Ada apaan sih?” tanya Karin.
Dan pertanyaan itu langsung mendapat jawaban. Satu anak cewek yang berdiri paling depan menunjuk celah yang terbentuk antara Karin dan Tata. Refleks Tata dan Karin menoleh ke celah tersebut.
Ternyata tangan Tata masih mengenggam tangan Karin. Tata dan Karin langsung menarik tangan masing-masing. Cepat-cepat Karin duduk di kursinya sendiri dengan wajah merona dan diiringi senyuman para siswa dan siswi.
Tata pun mendapat godaan dari keempat temannya. Tata hanya bisa diam sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Salah satu anak kembali berkoar-koar. “Woi, traktir dong!! Peje!!”
Tata menatap dengan bingung. “Apaan tuh peje?”
“Pajak jadian tau!” teriak anak itu lagi.
“Siapa yang jadian?” tanya Tata bingung.
“Yah elo lah, masa gue sama tuh anak cewek? Kalau gue sih alhamdulilah, tapi elo? Bisa kena damprat gue kalau gebet cewek elo.”
“Gue nggak jadian sama dia.”
“Halah, nggak usah ngeles deh elo. Lah pegangan tadi itu apa?”
Tata tergagap sendiri. Tumben banget dia mati kutu. Ia segera keluar kelas. Tapi baru saja ia jalan tiga langkah. Agni dan Bella kembali. Wajah Bella tanpa ekspresi ketika memasuki kelas, dan Agni tampak mendung berat.
“Gimana?” tanya Hari langsung ketika Agni di hadapan mereka.
Agni menghela napas dengan suara keras. Ketika ditanya lagi oleh Beben, Agni kembali menghela napas dengan suara keras. Sedangkan Bella hanya tertunduk di kursinya, Karin tidak tega untuk bertanya.
“Heh! Kalau di tanya jawab jangan haah.. heeh.. haah.. heeh... aja lo.” Gilang menirukan gaya Agni menghela napas dengan suara keras.
“Gue...” Agni memulai. Wajahnya tertunduk. “Gue DITERIMA, cok!! Gue diterima!!” Agni tiba-tiba loncat-loncat di tempatnya membuat semua orang kaget bukan main.
Semua langsung memberi selamat pada Agni dan Bella. Tak terkecuali Karin. Ia langsung memeluk Bella.
Congrulation, Bells.”
“Makasih.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar