Karin berjalan ke gerbang sekolah dengan lesu, pagi ini ia berangkat sekolah tidak di antar kakakknya melainkan ayahnya. Ayahnya juga sekalian ke sekolah karena ayah Karin adalh ketua yayasan SMA Brawijaya Robbi hari ini mengantar Mega sekolah, ternyata Mega masih SMA kelas dua. Dalam hati Karin langsung memaki-maki Mega, ketika Robbi bilang tidak bisa mengantar.
Sekarang Karin merasa Robbi lebih pentingin Mega daripada dirnya. Karin jadi sedih sendiri.
Kebetulan ketika Karin sampai di gerbang sekolah, Tata pun baru saja memarkirkan mobilnya. Tata melihat Karin berjalan dengan wajah tertunduk, dan langkahnya gontai, perlahan Tata mendekati Karin. Dan berjalan disebelah Karin.
“Kenapa lo?” Tata langsung mengagetkan Karin.
Karin langsung tergagap. “Eh.. nggak... Karin nggak apa-apa.”
Setelah berkata seperti itu Karin langsung berjalan cepat-cepat, tapi bukan Tata namanya kalau langsung menyerah. Tata langsung mengambil langkah seribu untuk menjajari langkah Karin.
“Jangan bohong lo,” ancam Tata. Karin tahu itu hanya candaan, karena suara Tata begitu lembut saat mengucapkan ancaman itu.
Karin menghentikan langkahnya dan menoleh pada Tata yang ikut berhenti, lalu ia menjulurkan lidahnya panjang-panjang, lalu ia kembali berjalan. Tata tertawa kecil, ia kembali menjajari langkah Karin sambil merangkul bahu Karin. Tata mengantar Karin sampai depan kelasnya.
“Makasih,” kata Karin sambil nyengir, memamerkan gigi yang putih dan rapi.
“Sip.” Tata berjalan menjauhi kelas Karin, walaupun kaki melangkah, pandangannya tidak lepas dari Karin. Sampai di perempatan koridor baru ia memalingkan wajahnya.
Mereka tidak menyadari dari tadi ada yang memperhatikan mereka dari gerbang sampai ke kelas masing-masing. Orang itu adalah Victor dengan sahabatnya, Dilla.
“Kurang ajar tuh cewek. Gatel banget sih!” ucap Victor berapi-api.
“Sabar, Vic. Siapa tuh adiknya,” kata Dilla menenangkan.
“Adiknya cuma satu tau! Itupun masih SMP!”
“Ehmm.. adik sepupu mungkin.”
“Kalau adik sepupu kenapa nggak berangkat bareng-bareng?” Victor tetap ngotot.
Akhirnya Dilla mengalah pada Victor.
***
“Hei! Lo suka sama Karin nggak ngomong-ngomong ya sama kita!” tiba-tiba lima temannya Tata mengagetkan Tata saat istirahat pertama tiba. Saat Tata sedang menuruni tangga ingin ke kantin.
Mendengar seruan temannya, Tata hanya bisa tersenyum tipis.
“Cie, Tata. Tumben lo suka sama cewek. Gue kira lo homo,” kata Gilang yang langsung mendapat jitakan Tata.
“Gue bilang juga apa.” Tony ikut nimbrung.
Yang diolokin hanya bisa cengengesan.
“Lo sih. Seminggu ini kita dapat pembuktian tiga kali,” kata Beben tiba-tiba.
“Apaa tuh?” tanya Hari langsung.
“Pertama Agni ternyata suka sama cewek. Dua Tata ternyata bukan homo. Tiga Tata dan Agni ternyata bukan pasangan homo.” Beben menjelaskan dengan nada yang seolah-olah ia sedang mengucapkan janji presiden.
Tata dan Agni berpandangan sejenak. Kemudian mereka langsung menjitaki Beben. Yang dijitakin hanya bisa mengerang pasrah. Dengan canda tawa mereka bersama-sama ke kantin.
Sampai di kantin mata Agni langsung mencari-cari.
“Tuh!” Tata menunjuk salah satu sudut kantin.
Sudut itu ternyata dihuni oleh Karin dan Bella. Terlihat Karin dan Bella asyik menikmati bakso masing-masing. Melihat itu wajah Agni langsung cerah.
“Thanks, Bro.” Agni menepuk bahu Tata.
Kemudian Agni mengajak teman-temannya duduk di sebelah Bella dan Karin. Sampai disana Agni langsung duduk di sebelah Bella. Sedangkan Tata duduk di sebelah Karin, Tata langsung mendapat senyuman tersembunyi dari teman-temannya.
Bella dan Karin hanya bisa diam sambil tersenyum melihat dan mendengar celetukan-celetukkan dari teman-teman Tata dan Agni.
“Kasian banget sih nasib kita. Jomblo terus,” celetuk Tony.
“Kita? Lo aja kali,” sahut Beben.
“Rin, lo mau nggak sama gue?” canda Hari.
Karin tersenyum. “Nggak, makasih. Karin masih normal, Kak.”
Mendengar jawaban dari Karin, semua tertawa. Beben dan Tony sampai terbungkuk-bungkuk.
“Dan juga nanti ada yang marah tuh, Har!” kata Tony setelah tawanya mereda.
“He-eh, gue juga tau lagi. Orang gue cuma becanda doang,” sahut Hari.
Tata memalingkan wajahnya, sedangkan Karin pura-pura tidak mendengar.
Lagi-lagi mereka tidak menyadari bahwa Victor dan Dilla sejak tadi memperhatikan mereka dari meja seberang. Walau terlihat tak acuh mereka memasang telinga tajam-tajam di tengah ributnya kantin.
Victor menahan geram dengan gigi geraham yang ia tekan kuat-kuat. Ia berdiri dan berjalan menjauhi kantin, tidak peduli dengan siomay-nya yang belum sempat disentuh. Dilla dengan cekatan mengikuti langkah Victor yang panjang-panjang.
“Enaknya, gue apain tuh anak?” tanya Victor berapi-api.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar