destiny (part 3)

“Karin?” panggil Tata.
“Iya, kak?” Karin menoleh.
“Lo tugasnya pinjem gitar di ruang serbaguna sama Bu Handayani. Ditemani sama Bella dan Siti.”
“Sekarang, Kak?” tanya Karin.
“Nggak tahun depan! Ya sekaranglah!” Tata rada-rada dongkol.
“Sip, Kak.” Karin mengedipkan satu matanya dan mengancungkan satu jempolnya.
Hari ini MOS kedua, hari ini adalah saat-saat anak MOS di kerjain abis-abisan. Kalau kemarin Cuma disuruh bawa ini-itu doang. Sekarang di kerjain abis-abisan. Bella sudah gentar-gentir, sedangkan Karin malah santai-santai doang.
“Ayo,” ajak Karin pada dua temannya.
“Elo kok berani betul sih sama mereka, Rin?” tanya Siti.
“Mereka kan sama-sama makan nasi sama kayak kita. Ngapain takut. Yang bener itu menghormati!” jawaban Karin membuat Siti bungkam.
Setelah meminjam, Karin, Bella, dan Siti segera membawa gitar itu ke aula. Tiba-tiba ada suara menggelegar dari pengeras suara.
“INILAH PENYANYI KITA!! KARIN FINANSI!!” suara kak Tata terdengar begitu jelas.
Karin, Bella, dan Siti berpandangan dengan bingung. Ada apa sih? Batin mereka serempak bertanya. Semua anggota MOS dan para senior menatap Karin dengan senyum lebar yang tercetak di bibir masing-masing
Yuli, senior yang masuk kelompok kak Dekka, mendekati Karin. “Lo disuruh nyanyi.”
Karin kaget dan refleks mundur sampai tiga langkah. Bella dan Siti menatapnya prihatin sekaligus menghembuskan napas lega kerena yang nyanyi bukan mereka.
Yuli segera menarik tangan Karin dan membawakan gitarnya ke depan aula yang ada panggungnya. Setelah sampai di atas panggung. ia meletakkan gitar itu di tangan Karin. Sambil mengucapkan good luck, ia turun di panggung dan bergabung dengan senior lainnya.
Karin mengedarkan pandangannya ke seluruh aula. Teman-temannya menatapnya dengan berbagai macam, ada yang prihatin, meringis lebar, kasian, dll. Sedangkan senior hampir semua tersenyum dan mengucapkan good luck tanpa suara sambil mengancungkan dua jempolnya.
Karin menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan hati-hati. Di ambilnya mic dan ditegakkannya mic di tempatnya. Untung gue bisa nyanyi sama main gitar! Batin Karin.
Pelan tapi pasti di petiknya gitar. Lalu ia menyanyikan satu lagu yang cukup familier.Perfect dari simple plan. Suara yang mengalun begitu merdu dan lembut. Semua terpana. Apalagi Tata, tak terduga ternyata suara Karin begitu lembut dan merdu. Dia kira suara Karin akan cempreng saat bernyanyi.
Setelah Karin menyanyi, tepuk tangan riuh menyambutnya. Wajah Karin merah padam menahan malu. Ia turun panggung, para senior segera member ia pujian.
“Suara lo bagus!”
“Suara emas.”
“Ikut panduan suara yuk.”
“Nyanyi lagi nah.”
Karin hanya tersenyum malu, cepat-cepat ia mendatangi Bella. Ketika ia melewati Tata dkk, ia menahan tawa. Tata dkk hanya memandangnya dengan ekpresi yang terkejut.
“Kalau mau permalukan seseorang... mikir dulu!” kata Karin sambil menahan senyum pada Tata dkk, lalu ia pergi dengan santai.
“Sialan tuh cewek!” kata Tata dongkol.
“Sabar, Ta,” kata Agni pelan.
Baru saja Tata ingin membuka mulut. Tiba-tiba Raihan ada di atas panggung dan menyerukan suatu perintah.
“Dengerin semuanya! Acara kita lanjutkan! Anggota MOS cepetan buat lingkaran! Sedangkan Panitia MOS cepetan ngatur anak MOS supaya bikin lingkarannya rada cepat!”
Semua langsung bergerak cepat, tapi tetap saja kena marah.
“Heh! Bisa bikin lingkaran nggak sih? Bego amat!” bentak Neon.
“Cepetan woi! Waktu mepet nih!!!” teriak Tata.
Junior langsung gelagapan secepat-cepatnya mereka membuat lingkaran. Setelah membuat lingkaran denga tepat. Para senior masuk ke dalam lingkaran.
“Duduk semua,” perintah Farhan.
Serempak para junior duduk di lantai aula.
“Oke. Hari ini kami akan buat berbagai macam acara yang mungkin agak-agak ekstrem. Tapi acara ini harus dilaksanakan!” kata  Neon tegas. “Acara ini adalah... kalian disuruh mengambil suatu kertas yang isinya ada suatu perintah dan perintah itu harus dilaksanakan! Kalau tidak mau akan di beri sangsi yang lumayan berat.”
Junior langsung berdoa dalam hati agar tidak mendapat perintah yang memalukan.
Tak lama kemudian setiap anggota MOS mendapat satu kertas yang berisi satu perintah. Yang cewek dapat toples yang berbeda dengan cowok. Setelah membaca isi perintah, anggota MOS langsung pucat pasi.
Tapi Karin memucat, wajahnya ketakutan, kerena ia mendapat perintah yang ekstrem. Sementara Bella ikut memucat, karena ia juga mendapat perintah yang ekstrem.
Karin dan Bella berpandangan. Menyadari satu sama lain saling mendapatkan perintah ekstrem.
“Lo dapat perintah apa?” tanya Karin was-was.
Bella menunduk, wajahnya yang tadinya pucat jadi memerah. Pelan-pelan ia menjawab. “Gue.. Gue dapat perintah... disuruh dansa.”
“Hah?” Karin terkejut. “Kok sama?”
“Hah? Masa sih? Lo dansa sama siapa?” gantian Bella yang terkejut.
Wajah Karin memerah, “Kak... Tata.”
“Hah? Kok bisa pas gitu?”
“Makanya. Lo sama siapa?”
“Kak Agni.”
“Mending. Lah gue? Sial banget sih gue hari ini.”
Baru saja Bella ingin membenarkan kalimat  Karin. Neon, sudah memulai pidatonya kembali.
“Kalian semua mendapat perintah yang sama! Yaitu dansa. Dansa dengan kaka kelas kalian yang tertera namanya di kertas itu. Jangan harap bisa mundur.” Neon berhenti sejenak. “Sekarang! Datang ke pasangan kalian masing-masing!” perintahnya.
Junior langsung berdiri cepat dan mendatangi pasangan masing-masing. Tapi, Karin dan Bella berjalan lambat-lambat ke pasangannya. Begitu sampai di pasangan mereka. Wajah mereka pelan-pelan memerah dan menunduk.
“Jadi elo pasangan gue?” tanya Tata kaget.
Karin hanya mengangguk pelan tanpa mengangkat wajahnya.
“Angkat muka lo,” perintah Tata.
Karin mengangkat muka perlahan. Jelas terlihat diwajahnya rasa malu yang membuat wajahnya menjadi merona. Tata tersenyum samar. Diulurkannya satu tangan.
“Mau?”  tanya Tata.
Pelan-pelan salah satu tangan Karin meraih tangan Tata yang terulur dan tangan lainnya melingkar di leher Tata. Wajahnya kembali menunduk malu. Wajahnya tambah merona. Tata kembali tersenyum, diraihnya pinggang Karin ke dalam pelukannya. Karin menyandarkan kepalanya di dada Tata.
“Lo itu ya, nyolot tapi malu-malu.” Tata berbisik di telinga Karin.
Karin tertawa kecil. “Bukan Karin namanya kalau nggak kayak gitu.”
Tata menggeleng perlahan, kemudian ia meletakkan pipi kanannya di puncak kepala Karin. Musik terdengar dari pengeras suara. Perlahan setiap pesangan bergerak ke kanan dan ke kiri—termasuk Karin dan Tata.
Setelah musik selesai Karin segera melepaskan diri dari Tata. Terdengar suara Neon di pengeras suara yang memerintahkan kembali junior untuk membuat lingkaran kembali. Cepat-cepat mereka kembali membuat lingkaran.
Meskipun acara tadi sudah berlalu. Tatapan tajam milik Tata masih saja menghujam Karin. Dari sudut mata, Karin sudah tahu bahwa Tata memperhatikannya. Langkah-langkah Karin menjadi kikuk dan bahasa tubuhnya menjadi salah tingkah. Ia berusaha bersikap wajar, tapi gagal!
Tata tersenyum geli melihat Karin. Tapi senyum itu menghilang ketika dirasakannya seseorang menepuk pundaknya pelan. Ternyata Tony.
“Naksir lo sama dia?” tanya Tony sambil tersenyum nggak jelas.
“Nggak, gue nggak suka cewek nyolot kayak dia,” kata Tata.
“Sok jual mahal lo!” sahut Beben yang langsung diiyakan oleh teman-temannya.
“Sialan!” umpat Tata. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar