destiny (part 12)

Agni, Hari, Beben, Gilang, dan Tony merasakan ada perubahan dalam diri Tata. Perubahan itu mereka rasakan ketika siswi baru itu masuk ke kelas mereka. Tata jadi pendiam dan tidak lagi mendekati Karin seperti kemarin-kemarin. Ia pun tidak makan dan minum selama di kantin. Di kantin biasanya dia duduk di sebelah Karin, kini ia bergeser dua posisi, ia duduk di tempat Gilang, dan Gilang duduk di tempat Tata.
Celetukkan-celetukkan teman-temannya pun tidak di tanggapinya. Tata jadi banyak melamun, padahal kemarin dia yang paling cerewet, sekarang malah diam sejuta bahsa.
Karin pun merasakan perubahan dalam diri Tata.
“Rin, makan nggak lo kalau nggak makan buat gue aja,” kata Gilang sambil menunjuk mangkok bakso yang ada di haadapan Karin.
Karin jadi gemas. “Ih, kak Gilang ini! Karin masih makan tau!” kata Karin sambil mencubit pipi Gilang, yang dicubiti hanya nyengir nggak jelas.
“Abisnya elo nggak makan-makan cuma megangin sendok sama garpunya doang. Mending buat gue aja, lo makan sendok sama garpunya aja.”
“Enak aja. Bakso kakak aja belom abis, mau abisin punya Karin?” Karin menunjuk mangkok bakso Gilang.
“Heh! Lo bedua itu makan, makan aja nggak usah sambil ribut gitu. Males tau dengerinnya,” ujar Bella.
Tapi ucapan bella tidak dihiraukan oleh Karin dan Gilang, mereka asik berkelahi satu sama lainnya sampai Karin menutupi mulutnya dengan tangan agar tawanya tidak meledak keluar. Gilang sampai terbungkuk-bungkuk oleh celetukkan Karin. Tawa mereka terus berlanjut sampai ada seorang cewek dengan tubuh sekitar 170 cm, rambutnya gelombang lembut, mendatangi Tata dengan ekspresi tegang.
“Itu anak baru di kelas gue,” bisik Gilang di telinga Karin.
Karin mengenali orang tersebut, wajahnya tegang penuh kemarahan. Bukan marah karena tuh cewek datangin Tata, tetapi Karin menatap orang tersebut penuh amarah karena dia adalah...  Mega!
“Bisa minta waktu lo sedikit?” tanya Mega pada Tata, ia tidak memperdulikan teman-teman Tata yang sedang memandangnya.
“Gue nggak bisa! Gue sibuk!” kata Tata ketus tanpa menoleh.
“Sibuk sama teman lo? Lo mentingin mereka daripada gue.”
“Mereka memang lebih penting dari elo.”
Mega hanya diam, semua taman Tata menatapnya bingung. Pertanyaan yang sama berkecamuk di benak mereka masing-masing. Siapa sih nih cewek? Dateng-dateng buat keributan.
Mega menedarkan pandangannya ke teman-teman Tata. Matanya yang terkesan sinis bertemu dengan mata coklat milik Karin.
“Karin?” tanya Mega kaget. Semua perhatian kini tercurah pada Karin. Bingung kenapa Karin bisa mengenal Mega.
Karin hanya menatap Mega dengan kesal.
“Masih marah lo sama gue?” tanya Mega.
Karin hanya diam semiliar bahasa.
“Jangan salahin gue dong kalau kakak elo lebih sayang ke gue pacarnya dibanding elo adiknya.” Perkataan Mega membuat semua tahu bahwa itu adalah Mega yang selama ini diceritakan Karin sebagai pacar kakaknya, dan juga membuat semua sadar bahwa yang diceritakan Karin benar adanya, bahwa Mega orangnya bikin kesel. Serta membuat Karin langsung naik pitam begitu Mega berkata seperti itu.
“Lo diem ato gue cincang mulut elo disini! Dateng-dateng bikin orang kesel aja,” kata Karin sinis yang langsung diancungi jempol oleh teman-temannya.
“Sip, Rin!” kata Bella.
“Mantap, Rin,” ujar Agni.
“Pinter lo,” ucap Beben.
“Bener lo,” sambung Gilang.
Cool, Rin.” Hari mengancungkan jempolnya.
“Sumpah, Rin! Gue bangga punya adek kelas kayak lo yang pinter banget!” kata Tony sambil geleng-geleng kepala.
“Heh! Diem lo semua! Nggak ada yang nyuruh elo semua buat bicara.” Mega naik darah.
“Nah, lo juga siapa yang nyuruh ngomong?” sengit Karin yang membuat Mega terdiam dan yang lain tertawa.
Mega duduk di samping Tata. “kalau elo nggak mau ikut sama gue buat ngomong. Gua bakalan ngomong disini.”
Tata melirik jam tangannya. “Bentar lagi masukkan, ayo balik.” Tata berdiri diikuti oleh yang lain. Satu per satu meninggalkan Mega yang sedang memandang Tata dengan jengkel.


***


Karin menatap jengkel Robbi. Robbi pun menentang mata coklat Karin.
“Dia ikut?” geram Karin.
Mereka sedang ada di seberang sekolah, Robbi memarkir mobilnya disitu tetapi disana juga ada Mega yang juga ikut mobilnya. Di seberang gerbang sekolah tepatnya di belakang spanduk yang cukup besar dan tersembunyi, Tata dan teman-temannya serta Bella ikut menyaksikan pertengkaran dua bersaudara yang terjadi di belakangnya mobil Robbi itu.
“Ya! Kakak ngantar jemput dia mulai hari ini!” tegas Robbi.                                                       
“Karin nggak mau satu mobil sama dia!” Karin ngotot.
“Mau ya mau! Nggak ya nggak!”
“Maksud Kakak?”
“Karin mau ikut Kakak, tapi kalau Karin nggak mau pulang sendiri.”
Karin kaget tujuh belas keliling, ia sampai termundur satu langkah. Ia tak percaya Kakaknya dengan mudah mengatakan seperti itu kepadanya hanya karena seorang Mega? Tapi Karin berhasil mengendalikan dirinya lagi, ia menatap Robbi tanpa ekspresi. Dingin dan kaku. Sesuatu yang jarang terjadi pada diri Karin. Itu tandanya Karin benar-benar tersinggung dan marah. Robbi jadi takut sendiri.
“Jangan antar jemput aku lagi! Nggak usah ngomong sama aku lagi! Anggap adikmu sudah nggak ada atau hilang!” kata Karin yang sangat amat kasar dan kaku.
Gantian Robbi yang kaget. Ia tak percaya Karin akan berkata seperti itu. Tapi ia sadar, Karin memang keras kepala. Belum sempat ia mengucapkan permintaan maaf. Karin lebih dulu masuk taksi yang kebetulan lewat.
Robbi yakin, Karin pasti tidak akan mau bicara dengannya, bahkan menoleh pun tidak. Dengan lesu ia berjalan ke mobil. Di mobil Mega sudah duduk dengan manis. Ia mencetak senyum tersembunyi di bibirnya.
Ia memang berniat membuat hubungan kakak-adik itu hancur. Ia cemburu pada Karin karena Robbi begitu sayang pada Karin bukan padanya. Ia juga ingin balas dendam sama Karin.
“Karinnya mana?” tanya Mega.
Robbi diam, ia menjalankan mobilnya perlahan.
“Robb, Karin mana? Kita mau kemana? Karin nggak ikut kita? Pulang naik apa dia?” pertanyaan bertubi-tubi itu membuat kepala Robbi yang sudah pusing jadi tambah pusing.
“Mega! Kamu bisa diem nggak sih! Aku pusing ini!” bentak Robbi.
Mega terdiam, masih mencetak senyum kemenangan di bibirnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar