destiny (part 1)

ini cerita hanya fiksi loh yaa... jangan di ambil ati... nanti aku makan apa kalau kamu ambil ati dari piring ku?

KARIN berjalan santai ke gerbang sekolah barunya. SMA Bramijaya. Baru jam enam lewat lima menit. Berarti MOS belum dimulai. Maklum, sekolah ini punya waktu MOS yang lumayan cepat. Jam enam lewat tiga puluh menit MOS sudah dimulai.
Karin selalu saja merutuki nasibnya, walau bangga masuk SMA yang lumayan elite ini, dirinya tak kurung cemas juga. Soalnya isu-isu yang didengar, MOS yang dilaksanakan disini mirip neraka. Apalagi para seniornya tak peduli laki ato cewek, berantas!!
Tapi yang paling Karin cemaskan adalah Tata dan lima temannya—Agni, Gilang, Tony, Hari, Beben—yang masih kelas sebelas. Mereka itu membuat MOS disini jadi neraka. Apalagi mereka suka marah-marah nggak jelas. Salah dikit walaupun nggak disengaja, langsung berantas!!!
“KARIIIIN.” Bella melambaikan tangannya dari arah gerbang, yang diteriaki hanya meringis.
Bella, teman Karin dari kecil. Dari SD, SMP, bahkan SMA. Mereka selalu satu sekolah. Satu kelas juga pula. Bella sebenarnya tidak mau masuk SMA Bramijaya. Tetapi ortunya memaksa. Mentang-mentang alumni SMA itu.
Sesampainya Karin di gerbang, Bella langsung nyerocos.
“Elo itu ya! Lambat banget sih jalannya! Kayak siput tau!”
“He he he, gue kan putri dari kerajaan. Jadi kalau jalan perlu aturan.” Karin meringis.
“Kerajaan apa juga yang mau ngangkat elo jadi ratu?”
“Kerajaan Singopahit.”
“Ha?” Bella bingung.
“Singosari dan Majapahit.” Karin tertawa, tapi hanya sebentar. Karena terdengar suara senior membentak mereka.
“Heh! Ngapain ngumpul disini! Cepat masuk kelas! Siapkan peralatan kalian, lalu siap-siap ke lapangan!” kata senior itu galak.
Karin dan Bella berpandangan. Bingung. Senior itu ngomong sama mereka kah?
“Kakak ngomong sama kami?” tanya Karin sambil menunjuk dadanya.
“Oh, bukan. Gue ngomong sama patung! Ya jelas sama kalian lah.”
Karin dan Bella hanya bisa ber-oooohh panjang-panjang. Sambil menahan tawa, mereka ke kelas.
“Kakak tadi rada galak ya?” kata Karin setelah mereka sampai dikelas.
“Lo tau nggak tuh kakak siapa?” tanya Bella sambil meringis.
“Nggak.”
“Tuh senior namanya Gilang.”
“Siapa dia?”
“Komplotannya si kak Tata.”
Karin melompat kaget, rupanya tadi ia sudah menertawakan salah satu anggota kelompok Tata. Itu berarti cuma satu. MASALAH!!!
“Elo sih, pake nahan tawa, siapa tau dia ngadu ke kak Tata.” Bella menatap Karin prihatin.
Karin sebenarnya takut, hanya saja egonya menahan rasa takut tersebut. “Emang mereka siapa? Sama-sama makan nasi aja toh! Ngapain takut!”
“Sok lu.”
Terdengar bunyi bel, tanda mos segera dimulai. Dengan sigap Karin dan Bella mempersiapkan alat-alat MOS mereka.  Segera mereka berlari ke lapangan, dan meluruskan barisan mereka. Dari sudut mata dilihatnya Tata dan lima temannya sedang mengomentari seseorang, tapi mata mereka tertancap lurus-lurus ke Karin, berarti Gilang sudah lapor tentang kejadian tadi pagi.
Ember!!! maki Karin dalam hati.
Senior-senior berputar mengelilingi para junior. Setelah yakin para junior lengkap membawa peralatan MOS masing-masing. Mereka membagi junior menjadi lima kelompok. Kelompok pertama di pimpin oleh kak Raihan dan lima temannya. Kelompok kedua dipimpin oleh Farhan dan lima temannya. Kelompok tiga dipimpin oleh Dekka dan lima temannya. Kelompok empat dipimpin Tata dan lima temannya. Kelompok lima dipimpin Neon dan lima temannya. Para senior yang lain bertugas menjadi seksi-seksi.
Dan sialnya, Bella dan Karin masuk ke dalam kelompok Tata dkk. Waduh, masalah tuh. Keduanya memanjatkan doa dengan sungguh-sungguh agar MOS mereka tidak seperti neraka. MOS pertama saja sudah sial begini? Gimana nanti?
“Lo berdua. Sini.” Tata menggerakkan kelima jarinya ke arah Karin dan Bella.
Keduanya tampak bingung, tapi tetap mendekati Tata.
“Ada apa, kak?” tanya Karin hati-hati.
“Elo ya, yang tadi pagi nyolot ke temen gue?”                                                                
“Hah? Nyolot?”
“Iya, nyolot ke dia.” Tata menunjuk Gilang.
“Oh, kakak yang itu.”
“Iya, yang itu.”
“Karin nggak nyolot kok, kak,” kata Karin.
“Trus tadi pagi dia nanya kenapa elo nyolot?” 
“Karin cuma nanya aja, beneran nggak kak Gilang ngomong sama Karin. Nanti kan kalau salah Karin yang dikira ke-geer-an. Kalau udah begitu tinggal nunggu malu aja kan. Baik Karin nanya aja.” Karin memamerkan senyum manisnya.
“Elo!” Tata merendahkan badannya supaya sejajar dengan tubuh mungil Karin.
“Apa?” tanya Karin polos.
“Lo tunggu ya!” ancam Tata.
“Tunggu apa?”
“Liat aja nanti. Balik ke barisan!” perintah Tata dengan suara agak kencang.
“Baik, kak.” Karin balik ke barisannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar