destiny (part 4)

Lo itu ya, nyolot tapi malu-malu.
Satu kata yang selalu terngiang-ngiang di kepala Karin.  Sampai saat ini ia masih tak percaya tadi ia berdansa dengan seseorang yang pernah marah dengannya, mengerjain dirinya habis-habisan.
Sebuah senyum tercetak di bibir manis Karin. Tetapi senyum itu langsung musnah.
Ngapain sih gue mikirin tuh Tata. Nggak penting! Lagi pula dia udah bikin gue malu sama kakak senior yang lain! Coba kalau suara gue tadi cempreng, jelek, nggak merdu! Mau ditaro dimana tuh muka gue? Batin Karin.
Karin mencoba mengalihkan perhatiannya dengan bernyanyi dan bermain gitar. Tetapi tidak bertahan lama pikirannya kembali ke Tata. Akhirnya ia mencoba mengalihkan pikirannya lagi dengan mendekati kakak satu-satunya. Robbi.
“Haloo, kakakku,” sapa Karin ketika melihat kakaknya sedang dibalkon sambil bermain laptop.
“Haloo juga adikku,” kata Robbi tanpa mengalihkan perhatiannya dari laptop.
“Lagi apa, Kak? Serius amat?”
“Lagi input mata kuliah.”
“Susah ya, Kak?”
“Nanti Karin juga tahu gimana rasanya,” kata Robbi penuh misteri.
Karin hanya diam. Kalau lagi kayak gini, Robbi itu susah mau diajak ngomong. Jadi penuh misteri. Lagi pula dia lagi input mata kuliah. Mana tega Karin ganggu. Dengan malas Karin ke bawah tempat mama dan papanya sedang asyik nonton televisi. Tetapi Karin tetap tidak ingin mengganggu. Ia berjalan ke dapur tanpa sepengetahuan orang tuanya.
Di dapur ia juga bingung mau ngapain. Masak? Malam-malam gini? Males! Akhirnya ia kembali ke atas dan duduk di sofa ruang keluarganya. Diamainya ruang itu. Sekilas ia merasakan kenyamanan yang tidak ia dapatkan di tempat lain.
Ruang ini begitu mendekatkan anggota keluarga satu sama lain. Tempatnya juga strategis. Di lantai dua rumah Karin. Dikelilingi kamar kakaknya, Karin, dan orang tuangnya, sebelah kirinya ada perpustakaan rumah. Dan di sebelah kanannya ada balkon. Begitu nyaman.
Ruang ini selalu terisi dengan canda, tawa, sedih, suka, serta duka. Banyak sekali yang terjadi. Disalah satu dindingnya. Terdapat foto-foto keluarga Karin. Foto Karin yang masih umur 12 tahun dengan kebaya. Ada fotonya bersama keluarga dengan nuansa jawa. Ada foto dirinya dengan Robbi yang sedang tertawa lebar sambil bersepeda. Ada foto orang tuanya yang sedang dipelaminan dan masih banyak lagi.
“Hei, Karin. Kenapa melamun?” Robbi tiba-tiba ada disebelah Karin. Di pangkuannya tidak ada lagi laptop.
“Nggak ada apa-apa kok, Kak. Cuma lagi bosen,” kata Karin.
“Kakak juga lagi bosen. Main monopoli yuk. Ajak mama sama papa juga.”
Mata Karin langsung berbinar. “Ayo. Ayo.” Karin langsung berlari ke bawah. Dan mengajak mama dan papa-nya bermain monopoli bersama.
Segala canda dan tawa ketika bermain monopoli membuat Karin lupa dengan Tata.

***

Di sisi lain, Tata yang duduk di sofa di temani adiknya yang sedang mengerjakan pr. Walaupun matanya tertancap lurus  pada soal yang di tanyakan adiknya—lantaran adiknya yang masih kelas dua SMP itu tidak mengerti, jadi ia membantu—tetapi pikirannya tidak tertancap disana, melainkan tertancap di Karin.
“Kak?” panggil Rani. Tata kaget. “Rani aja deh yang ngerjain. Kakak ngelamun gitu, gimana mau selesai?”
“Nggak, nggak usah. Nih kakak lagi mikir, lagi pula udah setengah jalan kok.” Tata berbohong.
“Setengah jalan gimana? Nulis nomornya aja kakak belum. Ngomongnya setengah jalan.”
Tata melirik buku tulis adiknya, kemudian ia terkekeh. “Ya sudah. Kerjain sana. Kalau susah baru bawa kesini.” Tata mengembalikkan buku Rani.
“Sip!”
Rani kembali ke kamarnya, meninggalkan Tata yang masih duduk di ruang belajar. Sampai beberapa saat Tata hanya terdiam membisu. Bisa-bisanya dirinya terbengong-bengong sendiri hanya karena seorang cewek yang baru dikenalnya, sampai-sampai ia tidak membantu adiknya mengerjakan pr. Ia tersenyum geli, kemudian ia berdiri dan berjalan ke kamarnya. Segala cara ia lakukan agar Karin pergi dari pikirannya. Dari menyetel musik nyaring-nyaring, nyanyi-nyanyi dengan sangat nyaring. Tetap saja tidak bisa mengenyahkan Karin dari pikirannya.
Tiba-tiba kamarnya digendor-gendor dari luar. Tata membuka kamarnya dan mendapati adiknya sedang berdiri di pintu kamarnya dengan wajah cemberut.
“Kakak bisa nggak sih nyetel musik ngak usah nyaring-nyaring?!” semprot Rani langsung ketika Tata membuka pintu.
Tata tertawa sejenak. Lalu memandang adik semata wayangnya itu. “Kakak lagi refresing...”
Adiknya terpana sejenak. Tumban kakaknya refresing, biasanya Rani yang refresing karena kakaknya itu suka mengerjain dirinya.
“Jangan menyetel musik nyaring-nyaring lagi!” ancam Rani sambil berjalan ke kamarnya.
“Sip, Bos!”
Setelah Rani hilang dibalik pintu kamarnya, Tata kembali termenung. Bayangan Karin kembali berkelebat di pikirannya. Tapi kali ini ia tak berusaha mengenyahkan. Biarlah bayangan itu hilang dengan sendirinya.
Tata termenung di meja belajarnya. Kamarnya sunyi senyap, tak ada lagi suara musik yang memekakkan telinga, tak ada lagi suara cemprengnya yang memenuhi seluruh sudut rumah. Yang ada hanya suara hatinya.
Kini ia teringat lagi ketika Karin bernyanyi di atas panggung dengan anggunnya, suara merdunya yang mampu membuat pendengar jadi tentram hatinya. Wajahnya yang putih bersih dari noda, hidung mancung, mata coklat, rambut panjang yang ikal dan berwarna coklat. Karin yang berdansa dengannya di MOS.
Tata bertanya dalam hati. Apakah ini cinta? Soalnya gue nggak mau rasain cinta. Kalau bener gue jatuh cinta,  jangan dialah. Kasian dia. Kena damprat Victor nanti. Gue lagi yang disalahin.
Tata sadar selama ini dia telah menutup hatinya rapat-rapat karena sesuatu yang sangat sulit ia lupakan, sehingga dirinya jadi sulit jatuh cinta. Namun, sekarang Karin telah mengubah hidupnya.
Hidupnya yang kini mulai sunyi oleh “rasa” yang tak akan pernah mau dirasakannya kembali. Karena “rasa” itu juga mengubah hidupnya yang awalnya baik menjadi buruk. Sikapnya yang dulu sopan jadi berandal.
Hilang sudah harapan Tata untuk hidup tenang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar